Jakarta, CNBC Indonesia — Investor asing tercatat melakukan aksi beli jumbo pada saham PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) melalui pasar negosiasi pada perdagangan Selasa (28/4/2026). Nilai transaksi mencapai sekitar Rp330,5 miliar, menjadikan RLCO sebagai saham dengan net foreign buy terbesar.
Berdasarkan data perdagangan, transaksi dilakukan melalui pasar negosiasi. Sebanyak 600 ribu lot atau setara 60 juta saham diserap, dengan harga rata-rata di level 5.500 per saham.
Namun, penelusuran lebih lanjut menunjukkan bahwa transaksi ini merupakan crossing internal di broker yang sama, yakni Samuel Sekuritas. Dalam transaksi tersebut, pihak pembeli tercatat sebagai investor asing, sementara penjual berasal dari investor domestik.
Artinya, transaksi ini lebih mencerminkan perpindahan kepemilikan saham dalam jumlah besar dari investor domestik ke investor asing, alih-alih murni aksi beli asing di pasar reguler.
Sejalan dengan transaksi tersebut, saham RLCO ditutup menguat 3,3% ke level 5.475, mendekati harga kesepakatan di pasar negosiasi. Hal ini menunjukkan respons pasar yang relatif positif terhadap aksi akumulasi tersebut.
Sebelumnya anggota DPR RI menyoroti pergerakan tinggi harga satu saham yang baru melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI). Melchias Marcus Mekeng, Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi Golkar, menyinggung perusahaan tersebut baru go public melalui initial public offering (IPO) dengan harga sekitar Rp200 per dan sempat melambung menjadi Rp8.000 per saham dalam waktu sekitar dua bulan.
“Nah ini saya mau tanya, pasti bapak-bapak dan ibu-ibu di OJK sudah tahu. Perusahaan ini siapa itu? Nah ini perusahaan ini bagaimana, ini nggak masuk akal,” kata Melchias di Gedung DPR RI, Rabu (1/4/2026).
Melchias melanjutkan bahwa valuasi perusahaan yang di luar batas normal sangat berbahaya. Terlebih bila saham yang naik tak wajar dijadikan jaminan untuk meminjam uang di bank. “Nah ini kan udah double jadinya. Di pasar modal dibobol, di perbankan dia bobol,” jelasnya.
Melchias lantas menanyakan apakah di OJK terdapat bagian atau mekanisme yang mengawasi permasalahan ini. Ia mewanti-wanti agar otoritas tidak mendapatkan laporan ketika “barang itu sudah hancur.”
“Nah itu ada nggak? Ada dashboard yang bisa melihat bahwa ini aneh perusahaan. Kok harganya bisa di atas? Nah itu bagaimana itu perusahaan? Perusahaan itu sudah disidik atau belum? Karena ini pidana, masuk ke dalam ranah pidana karena kebohongan publik. Nah OJK harus tegas di sini, dan kalau sudah melakukan tindakan, harus diumumkan supaya pasar itu percaya bahwa ada kepastian hukum yang dilakukan oleh OJK,” tegas Melchias.
Lebih lanjut, dia mengatakan bahwa bukan hanya satu saham itu saja, terdapat banyak saham juga yang melakukan praktik manipulasi. Melchias menilai hal ini menjadi pertimbangan MSCI menilai pasar modal RI rapuh.
Adapun Melchias tidak menyebut secara spesifik saham yang dimaksud. Akan tetapi salah satu saham yang belum lama ini melantai di Bursa Efek Indonesia dan langsung melesat adalah RLCO.
RLCO tercatat di bursa pada 8 Desember 2026 dengan harga penawaran Rp 168. Setelah IPO, saham RLCO berulang kali naik hingga menyentuh auto reject atas (ARA).
Pada 20 Januari 2026, harga saham RLCO menyentuh level penutupan 8.700. Artinya tidak sampai dua bulan, saham RLCO terbang 5.078,57%.
(mkh/mkh)
Add
as a preferred
source on Google


















