
Jakarta, CNBC Indonesia – PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS) atau BSI mengakui rencana pembelian kembali atau buyback saham dapat menggerus tingkat free float. Seperti diketahui, tingkat free float saham BRIS saat ini masih berada pada level 9,91%, jauh dari kewajiban terbaru sebesar 15%.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo membenarkan bahwa aksi korporasi tersebut dapat mengurangi tingkat free float saham perseroan. Namun, buyback perlu dilakukan karena saham BRIS dinilai sudah tergolong undervalued.
“Ya itu memang satu konsekuensi. Tapi kan kalau kita lihat sekarang kan, kita ingin menunjukkan kepada market bahwa harga saham BSI itu ya enggak segitu seharusnya,” kata Anggoro selepas CEO Lecture IV di Perbanas Institute, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026).
Menurutnya, buyback saham dilakukan BSI guna menunjukkan kepada para investor bahwa harga saham BRIS di pasar lebih kecil dibandingkan nilai yang sebenarnya.
“Jadi ya kita ingin menunjukkan kepada market dan pemegang saham minoritas bahwa, ya kita pede bahwa harga saham BSI itu enggak segitu. Udah enggak apa-apa kita masuk [buyback saham] aja. Enggak masalah kalau soal itu sih,” tutur Anggoro.
Sementara itu, BSI juga akan melakukan rights issue guna memenuhi ketentuan free float 15%. Anggoro mengatakan bank pelat merah itu akan segara menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) untuk meminta izin para pemegang saham.
“Nanti kan kita akan udah ada rights issue kan, kita akan mau ada RUPSLB nanti,” pungkasnya. Namun, ia enggan membeberkan berapa total nilai yang akan dihimpun dari rencana rights issue tersebut.
Seperti diberitakan sebelumnya, BSI baru mengumumkan rencana pembelian kembali saham atau buyback di tengah kondisi pasar yang berfluktuasi.
Mengutip dari keterbukaan kepada BEI, manajemen BSI menyampaikan perkiraan nilai jumlah buyback sebesar-besarnya Rp500 miliar termasuk biaya transaksi dan biaya lainnya yang timbul sehubungan dengan aksi ini. Dana untuk buyback berasal dari kas internal perseroan.
Sementara itu, RUPSLB BSI akan digelar pada tanggal 6 November 2026 mendatang. Rencana penambahan modal dengan memberikan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue tahap II itu akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 6,8 miliar saham seri B dengan nilai nominal Rp500 per saham.
Anggoro mengatakan aksi korporasi itu bertujuan untuk memperkuat pembiayaan bank syariah pelat merah itu yang pertumbuhannya tetap tinggi, yakni 16%. Meskipun menurutnya pendanaan BSI tetap tinggi, yakni dana pihak ketiga tumbuh 15%, bank itu tetap membutuhkan struktur pendanaan yang sehat.
Selain itu, rights issue II ini bertujuan untuk memenuhi syarat tingkat free float saham minimal 15%. Bahkan, Anggoro berharap nantinya saham BRIS bisa masuk indeks LQ45. “Harapannya nanti kita bisa sesuai dengan free float-nya, juga kita masuk ke, sejajar dengan LQ45 nanti,” ungkapnya belum lama ini.
(asr/asr)


















