
Jakarta, CNBC Indonesia – Para direktur utama Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) kompak menyambut baik keputusan Bank Indonesia (BI) melonggarkan kewajiban Giro Wajib Minimum (GWM). Keputusan itu diambil dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan Bulan Oktober 2026.
GWM untuk bank konvensional dilonggarkan menjadi 7% dari sebelumnya 9% dan akan dilakukan bertahap mulai 1 November 2026. Sementara itu, bank syariah dan unit usaha syariah turun dari 7,5% menjadi 5,5% dengan tahapan pertama turun menjadi 6,5% pada 1 November 2026 dan 5,5% pada 1 Desember 2026.
Direktur Utama PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk. (BRIS), Anggoro Eko Cahyo, mengapresiasi kebijakan bank sentral RI tersebut. Menurutnya, pelonggaran GWM akan memberikan keleluasaan untuk bertumbuh.
“Ya, saya sih tentu mengapresiasi ya, karena itu jadi ada keleluasaan. Memang selama ini kan kita memang butuh keleluasaan untuk tetap bisa tumbuh,” kata Anggoro selepas CEO Lecture IV di Perbanas Institute, Jakarta Selatan, Rabu (28/10/2026).
PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BBTN) juga menyambut baik kebijakan penurunan GWM. Direktur Utama BTN, Nixon L.P. Napitupulu mengatakan kelonggaran GWM dapat digunakan untuk penyaluran kredit.
“Wah happy dong, kan bisa dipakai tuh duit buat kredit,” kata Nixon selepas Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “TRANSFORMASI BTN, Membangun Sinergi Pertumbuhan Bisnis Berkelanjutan” Bandung, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026).
Ia memperkirakan penurunan GWM sebesar 2% dapat memberikan tambahan likuiditas mencapai Rp6 triliun hingga Rp8 triliun.
“Kalau dugaan saya ya BTN tuh 1% GWM itu sekitar maksimum Rp4 triliun. Jadi kalau kita bisa nikmati 2% ya mungkin antara Rp6 triliun sampai Rp8 triliun, lah. Tapi aku lagi minta treasury ngitung dampak ke kita berapa tepatnya,” papar Nixon.
Bank pelat merah lainnya, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) menilai tambahan ruang likuiditas dari pelonggaran GWM dapat mendukung kapasitas perbankan dalam menyalurkan pembiayaan, sepanjang tetap dibarengi dengan penerapan prinsip kehati-hatian dan pengelolaan risiko yang memadai.
Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo mengatakan, pihaknya memiliki peran dalam mendukung kegiatan ekonomi melalui pembiayaan bagi dunia usaha dan sektor produktif.
“Melalui penyaluran kredit yang berkualitas dan sinergi dengan pemerintah, regulator, serta anggota Himbara, BNI akan terus mendukung pembiayaan sektor produktif dan agenda pembangunan nasional,” kata Okki dalam keterangannya, Jumat (23/10/2026).
Sementara itu, Ketua Umum Perhimpunan Bank Nasional (Perbanas), Hery Gunardi menilai kebijakan penurunan GWM tersebut dapat mendorong likuiditas pasar. “Pertama kami menyambut baik kebijakan penurunan GWM oleh Bank Indonesia,” katanya saat dihubungi CNBC Indonesia, Rabu (21/10/2026).
Hery yang merupakan Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) itu menjelaskan penurunan tingkat GWM akan berdampak pada fungsi intermediasi perbankan. Hal ini juga akan memperbaiki kondisi likuiditas perbankan yang tercermin dari rasio perbandingan pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR). “Impact-nya, penyaluran kredit bank akan meningkat dan LDR akan lebih baik,” tuturnya.
(asr/asr)


















