
Jakarta, CNBC Indonesia – Harga minyak dunia kembali menguat pada perdagangan Selasa (11/8/2026), melanjutkan lonjakan lebih dari 5% pada sesi sebelumnya. Pasar kembali mencermati risiko gangguan pasokan setelah harapan tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mulai meredup.
Berdasarkan data Refinitiv yang diterima CNBC Indonesia pada Selasa (11/8/2026) pukul 09.25 WIB, harga minyak Brent tercatat US$87,95 per barel. Harga tersebut naik 0,26% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di US$87,72 per barel.
Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) berada di US$82,39 per barel, naik 0,32% dari perdagangan sebelumnya yang berada di US$82,13 per barel.
Kenaikan tersebut membuat Brent sudah menguat 5,27% dibandingkan posisi pada Jumat (7/8/2026) yang berada di US$83,55 per barel. WTI bahkan naik 5,39% dalam periode yang sama, dari US$78,18 per barel menjadi US$82,39 per barel.
Kenaikan minyak dalam dua sesi terakhir berkaitan erat dengan perkembangan konflik AS-Iran dan kondisi jalur pelayaran minyak. Reuters melaporkan, Presiden AS Donald Trump mengatakan Angkatan Laut AS telah menguasai Selat Hormuz dan melakukan penyisiran terhadap ranjau Iran di jalur strategis tersebut.
Harapan pasar terhadap pembukaan kembali Selat Hormuz juga mulai berkurang setelah Trump meminta Iran memberikan kompensasi atas korban serta kerusakan yang ditimbulkan dalam perang, serangan, dan aksi protes.
Selat Hormuz menjadi perhatian utama karena jalur tersebut berperan penting dalam perdagangan energi global. Menurut analis Barclays, ekspor bersih minyak mentah dan produk olahan melalui Selat Hormuz pada pekan yang berakhir 7 Agustus hanya mencapai rata-rata 3 juta barel per hari (bph). Angka tersebut turun dari 4,4 juta bph pada pekan sebelumnya.
Penurunan arus ekspor tersebut memperbesar kekhawatiran pasar terhadap pasokan minyak dalam waktu dekat. Gangguan di Selat Hormuz juga berpotensi meningkatkan biaya asuransi dan memaksa kapal mengambil rute yang lebih panjang.
Risiko gangguan pasokan turut datang dari kawasan Laut Merah. Saudi Aramco menunda pengoperasian kembali kilang Jazan berkapasitas 400.000 bph hingga 30 Agustus setelah kelompok Houthi mengklaim melakukan dua serangan terhadap fasilitas tersebut pada Minggu.
Kondisi ini membuat pasar minyak kembali memasukkan premi risiko geopolitik ke dalam harga. Brent dan WTI memang masih berada di bawah level 29 Juli, masing-masing US$90,74 dan US$84,46 per barel. Namun, penguatan tajam dalam sepekan terakhir memperlihatkan perubahan sentimen yang cukup cepat.
Pasar kini menghadapi dua perkembangan yang saling berlawanan. Peluang kesepakatan AS-Iran yang lebih kecil meningkatkan risiko gangguan pasokan, sementara arus minyak melalui Selat Hormuz yang turun memperketat kondisi perdagangan fisik.
Perkembangan berikutnya akan sangat bergantung pada situasi di Selat Hormuz, negosiasi AS-Iran, serta keamanan jalur pelayaran di kawasan Timur Tengah.
CNBC Indonesia
(emb/emb)

















