
Jakarta, CNBC Indonesia – Bank DBS Indonesia memaparkan pandangannya mengenai tren terkini di industri otomotif serta implikasinya bagi para pelaku usaha. Direktur Institutional Banking Group Bank DBS Indonesia, Antonius Sehonamin, mengatakan tren tersebut relevan dengan kondisi industri otomotif di Tanah Air saat ini yang tengah menghadapi berbagai pergeseran, baik dari sisi teknologi maupun rantai pasok global.
“Kami melihat ada transisi di industri otomotif di semua level, ada faktor-faktor yang mempengaruhi baik dari elektrifikasi, affordability, economics productivity, utilisasi, dan operational efficiency,” ujar Antonius dalam acara bertajuk “Building a Resilient Automotive Ecosystem Beyond EV Amid Global Supply Chain Shift” yang diselenggarakan CNBC Indonesia bersama DBS, dikutip Kamis (17/9/2026).
Antonius menjelaskan, dari sisi daya saing atau competitiveness, DBS mencatat setidaknya tiga tren besar yang tengah membentuk arah industri otomotif ke depan. Pertama, elektrifikasi kendaraan. Kedua, lokalisasi rantai pasok. Ketiga, pemanfaatan kecerdasan buatan (AI), data, dan teknologi.
Menurutnya, kapasitas produksi saja tidak lagi menjadi satu-satunya faktor penentu daya saing perusahaan otomotif. Faktor-faktor lain seperti adaptasi teknologi dan efisiensi operasional dinilai semakin menentukan posisi pemain di industri ini ke depannya.
“Dari pemain-pemain kami melihat bahwa harus melakukan adaptability dan adjustment terhadap faktor-faktor di dalam menentukan competitiveness ke depannya,” jelasnya.
Antonius menyoroti keunggulan Indonesia dari sisi kekayaan sumber daya di sektor hulu, seperti nikel dan tembaga, yang menjadi modal penting bagi hilirisasi industri otomotif nasional. Meski demikian, ia menekankan pentingnya membangun ekosistem yang mencakup keseluruhan rantai nilai (end-to-end value ecosystem), mulai dari manufaktur canggih hingga sektor baterai, termasuk penyimpanan energi, produksi baterai, dan daur ulangnya.
“Untuk itu semua kami melihat bahwa ada tiga, jadi harus ada investasi, ada kapabilitas, dan harus ada pengembangan ekosistem,” ungkapnya.
Di sisi lain, DBS juga melihat pergeseran pendekatan dalam manajemen rantai pasok industri otomotif, dari konsep just-in-time menuju apa yang disebut Antonius sebagai just-in-scale. Pendekatan ini disebut lebih bersifat antisipatif dan berorientasi pada optimalisasi untuk membangun ketahanan atau resiliensi, baik dalam manajemen inventori, rantai pasok, maupun kapasitas manufaktur lokal.
Pergeseran tersebut, menurut Antonius, turut mendorong pentingnya alokasi modal yang matang, baik untuk kebutuhan jangka pendek maupun jangka panjang, guna mendukung kebutuhan investasi maupun modal kerja perusahaan-perusahaan di sektor otomotif.
DBS Ingin Jadi Mitra Perbankan Ekosistem Otomotif End-to-End
Menutup paparannya, Antonius menegaskan bahwa industri otomotif perlu dipandang sebagai satu kesatuan ekosistem, bukan sebagai segmen-segmen yang terpisah. Dalam konteks ini, ia menyebut perbankan, termasuk DBS, memiliki peran penting untuk mendukung seluruh rantai nilai industri tersebut.
“Bagi DBS, kami mau jadi banking partner dari para pemain-pemain,” katanya.
Ia menambahkan, DBS melihat keseluruhan rantai bisnis otomotif mulai dari sektor hulu, produsen kendaraan (OEM), hingga distributor dan diler. Selain menawarkan solusi perbankan yang komprehensif, Antonius menyebut DBS juga memiliki keunggulan konektivitas regional yang dapat mendukung transaksi lintas negara bagi para pelaku industri otomotif di Indonesia.
(fsd/fsd)


















