Jakarta, CNBC Indonesia — Mata uang Garuda berhasil membalikkan keadaan dan ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (18/6/2026). Penguatan ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan.
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,17% atau terapresiasi ke level Rp17.700/US$. Penguatan ini sekaligus membalikkan posisi rupiah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pada Rabu (17/6/2026), rupiah ditutup melemah 0,23% ke level Rp17.730/US$.
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah sebetulnya sempat mengawali hari di zona merah. Mata uang Garuda dibuka melemah tajam 0,62% ke level Rp17.840/US$.
Namun, tekanan terhadap rupiah perlahan menyempit menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI. Setelah keputusan BI diumumkan, rupiah mampu membalikkan keadaan dan berakhir menguat pada penutupan perdagangan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,19% ke level 100,281.
Penguatan rupiah hari ini terjadi setelah RDG Bank Indonesia pada 17-18 Juni 2026 memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%.
Sejalan dengan keputusan tersebut, suku bunga Deposit Facility juga naik 25 basis poin menjadi 4,75%, sementara suku bunga Lending Facility naik 25 basis poin menjadi 6,50%.
“RDG BI pada 17-18 Juni 2026 memutuskan untuk menaikkan BI Rate 25 bps menjadi 5,75%,” kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Kamis (18/6/2026).
Kenaikan ini menjadi langkah lanjutan BI untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Selain itu, kebijakan tersebut juga menjadi langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah.
Pada RDG Bulanan Mei 2026, BI lebih dulu menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin. Kemudian pada RDG Mingguan pekan lalu, BI kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Kini, BI kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%. Total BI sudah menaikkan BI-Rate sebesar 100 bps dalam sebulan terakhir.
Keputusan BI kali ini sejalan dengan polling CNBC Indonesia. Dari 14 institusi yang dihubungi, delapan memperkirakan BI Rate akan naik 25 basis poin menjadi 5,75%.
Dari sisi eksternal, rupiah sebetulnya masih menghadapi hambatan dari menguatnya dolar AS di pasar global.
Dolar AS menguat setelah bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuannya, tetapi pernyataan bank sentral menunjukkan para pembuat kebijakan masih melihat peluang kenaikan suku bunga pada tahun ini di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi.
The Fed mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%. Namun, proyeksi kuartalan terbaru menunjukkan sembilan pejabat The Fed kini memperkirakan adanya kenaikan suku bunga sebelum akhir 2026.
Kondisi tersebut membuat dolar AS kembali diminati pelaku pasar. Meski demikian, kenaikan BI Rate mampu menjadi sentimen positif bagi rupiah hingga mata uang Garuda berhasil berbalik menguat pada akhir perdagangan hari ini.
(evw/evw)
Add
as a preferred
source on Google


















