
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bertahan di zona hijau pada akhir sesi I perdagangan Senin, 5 Oktober 2026. Hingga tengah hari, indeks acuan Bursa Efek Indonesia tersebut berada di level 6.038,99, naik 2,10 poin atau 0,03%.
Sepanjang sesi pagi, pergerakan indeks terbilang fluktuatif. IHSG dibuka di level 6.055,16, lalu sempat melonjak ke posisi tertinggi harian di 6.085,45 pada menit-menit awal perdagangan. Setelah itu, tekanan jual membuat indeks turun bertahap hingga menyentuh titik terendah di 6.019,84 menjelang pukul 11.00 WIB. Memasuki akhir sesi, IHSG berhasil memantul dan bergerak mendatar di kisaran 6.040-an.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat 208,59 juta lot dengan nilai Rp4.845,02 miliar.
Pasar keuangan Indonesia diharapkan lebih tenang sepanjang pekan ini, 5-9 Oktober 2026 setelah labil pada pekan lalu. Rupiah dan IHSG mampu bangkit dari tekanan akhir pekan lalu.
Kemampuan IHSG dan rupiah untuk melanjutkan penguatan akan diuji pada pekan ini.
Sepanjang pekan ini, pasar keuangan memang masih akan dibayangi perkembangan ketegangan Amerika Serikat dan Iran, situasi di Selat Hormuz, serta arah harga minyak setelah pertemuan OPEC dan negara produsen non-OPEC.
Pergerakan energi juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi inflasi dan ekspektasi suku bunga global. Pasar obligasi juga masih disorot setelah kenaikan imbal hasil di sejumlah negara meningkatkan tekanan terhadap aset berisiko.
Dari kalender ekonomi, perhatian investor akan tertuju pada aktivitas sektor jasa AS dan notulen FOMC untuk mencari petunjuk mengenai peluang kenaikan suku bunga berikutnya.
Inflasi produsen Zona Euro akan memberikan gambaran mengenai tekanan biaya perusahaan, sementara keyakinan konsumen Jepang menjadi indikator ketahanan permintaan domestik.
Di Indonesia, cadangan devisa, keyakinan konsumen, dan penjualan ritel akan menjadi penggerak sentimen. Kalender China relatif sepi karena libur Golden Week berlangsung hingga pertengahan pekan. Rangkaian agenda tersebut berpotensi mempengaruhi dolar AS, rupiah, imbal hasil obligasi, dan IHSG.
(rob/rob)



















