
Jakarta, CNBC Indonesia – PT Barito Pacific Tbk (BRPT) mencatat laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk hingga semester I tahun ini sebesar US$190 juta. Laba tersebut anjlok 64,8% dari periode yang sama tahun 2025 yang sebesar US$540 juta.
Direktur Utama Agus Pangestu BRPT mengatakan, penurunan laba tersebut dipengaruhi oleh ketidakpastian dinamika geopolitik yang masih membayangi pasar.
“Semester satu 2026 masih diwarnai oleh situasi global yang bergejolak, dengan ketidakpastian dinamika geopolitik yang masih membayangi pasar,” ujarnya dalam keterangan resminya, Senin (3/8/2026).
Padahal, pendapatan bersih BRPT meningkat 76,1% mencapai US$5,686 miliar pada enam bulan di 2026, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar US$3,229 miliar.
Kontributor terbesar terhadap pertumbuhan tersebut berasal dari segmen petrokimia, yang mencatat pendapatan sebesar US$5,349 miliar, melonjak 83,6% dibandingkan semester I-2025 sebesar US$2,913 miliar. Sementara itu, segmen energi turut mencatat pertumbuhan dengan pendapatan mencapai US$334 juta, naik 11,3% dari US$300 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurutnya, di tengah kondisi tersebut, platform terintegrasi Barito Pacific di sektor Energi, Kimia, dan Infrastruktur kembali menunjukkan ketangguhannya, didukung oleh eksekusi yang disiplin serta meningkatnya kontribusi dari bisnis infrastruktur dan energi terbarukan.
“Portofolio kami yang terdiversifikasi memungkinkan Perseroan untuk beradaptasi terhadap perubahan kondisi pasar sekaligus terus menciptakan nilai jangka panjang yang berkelanjutan,” ucapnya.
Sayangnya, pendapatan dari segmen lainnya turun tajam menjadi US$3 juta, merosot 80,0% dibandingkan US$15 juta pada semester I-2025. Sehingga, meskipun pendapatan meningkat signifikan, kinerja profitabilitas BRPT mengalami tekanan.
Perseroan membukukan laba bersih setelah pajak sebesar US$518 juta, turun 70,0% dibandingkan semester I-2025 yang mencapai US$1,724 miliar.
Penurunan profitabilitas juga terlihat pada indikator operasional. EBITDA BRPT tercatat sebesar US$1,084 miliar, turun 45,1% dibandingkan semester I-2025 yang mencapai US$1,974 miliar. Sejalan dengan itu, marjin EBITDA mengalami penurunan tajam menjadi 19,06%, dari 61,13% pada periode yang sama tahun sebelumnya, atau menyusut sekitar 42%.
Ia menyebut, keberhasilan integrasi aset Shell di Singapura menghasilkan kinerja segmen refinery yang sangat kuat di tengah dislokasi pasar akibat dinamika di Timur Tengah, sementara kondisi pasar bagi fasilitas kimia yang beroperasi secara standalone di Indonesia masih tetap menantang.
“Kekuatan portofolio usaha kami yang terdiversifikasi memungkinkan Perseroan menangkap berbagai peluang di sepanjang rantai nilai sekaligus mengurangi dampak pelemahan pada segmen tertentu,” sebutnya.
Dari sisi struktur permodalan, posisi leverage perusahaan relatif stabil. Rasio utang terhadap kapitalisasi tercatat sebesar 55,58%, hampir tidak berubah dibandingkan 55,98% pada semester I-2025.
Sementara itu, rasio utang bersih terhadap ekuitas (net debt to equity) membaik menjadi 0,76 kali, dari 0,77 kali pada tahun sebelumnya, mencerminkan sedikit perbaikan dalam struktur pendanaan perusahaan.
Pada neraca, total aset BRPT hingga akhir semester I-2026 mencapai US$18,952 miliar, meningkat 9,2% dibandingkan posisi semester I-2025 sebesar US$17,353 miliar. Kenaikan aset diikuti oleh meningkatnya total liabilitas sebesar 10,2% menjadi US$12,458 miliar, dari sebelumnya US$11,308 miliar.
Di sisi lain, total ekuitas tumbuh 7,4% menjadi US$6,494 miliar, dibandingkan US$6,046 miliar pada periode yang sama tahun lalu. Total utang perusahaan juga meningkat 5,7% menjadi US$8,124 miliar dari US$7,687 miliar, sedangkan utang bersih naik 5,6% menjadi US$4,942 miliar, dibandingkan US$4,680 miliar pada semester I-2025.
Ia menambahkan, jaringan manufaktur terintegrasi di Indonesia dan Singapura meningkatkan keandalan pasokan serta fleksibilitas operasional, sehingga Perseroan dapat membantu mengurangi kendala pasokan di pasar domestik di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan gangguan terhadap rantai pasok global.
“Kami tetap berkomitmen kuat untuk terus berinvestasi di Indonesia, yang tercermin dari perkembangan proyek CA-EDC domestik kami yang berjalan sesuai rencana,” imbihnya.
Investasi senilai sekitar US$1 miliar tersebut telah mencapai 72% penyelesaian konstruksi dan tetap berada pada jalur yang tepat untuk mulai beroperasi pada tahun 2027. Sejalan dengan itu, pihaknua juga terus mengembangkan kapasitas operasi panas bumi, yang diproyeksikan akan meningkatkan total kapasitas terpasang menjadi lebih dari 1 GW pada akhir tahun ini.
“Ke depan, Barito Pacific akan terus berfokus pada pelaksanaan strategi transformasi jangka panjang, memperkuat ketahanan kinerja, serta menciptakan nilai yang berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” tutupnya.
(fsd/fsd)


















