
Jakarta, CNBC Indonesia — PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA) membukukan laba bersih sebesar Rp61,19 miliar pada semester I-2026, melonjak 158% dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp23,7 miliar. Namun, di balik kenaikan laba tersebut, kualitas kredit perseroan justru menunjukkan pelemahan.
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, pertumbuhan laba tidak ditopang oleh peningkatan bisnis inti. Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) tercatat relatif stagnan di level Rp1,39 triliun.
Di sisi lain, kenaikan laba lebih banyak didorong oleh lonjakan laba selisih kurs menjadi Rp129,29 miliar dari hanya Rp3,06 miliar pada semester I-2025, serta turunnya beban pencadangan aset keuangan menjadi Rp104,7 miliar dari Rp189,1 miliar.
Di saat yang sama, kualitas aset justru menjadi perhatian. Rasio kredit bermasalah atau non-performing loan (NPL) Bank Mayapada tercatat memburuk dibandingkan posisi Juni 2025, menandakan peningkatan porsi kredit bermasalah di tengah pertumbuhan portofolio pinjaman.
Sebagai informasi, Bank Mayapada menyalurkan kredit senilai Rp 110,41 triliun, naik 5,84% secara tahunan (yoy).
NPL gross naik 76 basis poin (bps) secara tahunan menjadi 4,02% dan NPL net naik 60 basis poin menjadi 3,12%. Merujuk laporan keuangan, kredit dalam kategori diragukan atau kolektibilitas empat naik lebih dari 65 kali lipat menjadi Rp539,85 miliar dan kategori macet atau kolektibilitas 5 naik 17,92% yoy menjadi Rp3,9 miliar.
Pada periode yang sama kredit kolektibilitas 3 atau kurang lancar turun 57,23% yoy menjadi Rp50,26 miliar. Kemudian kredit lancar turun 2,75% yoy menjadi Rp67,59 miliar.
Berdasarkan sektor, kredit bermasalah jasa bisnis naik kencang, yakni 155,8% yoy menjadi Rp1,94 trilun dan berkontribusi 55% terhadap NPL net. Secara persentase jasa pelayanan sosial naik 174,8% yoy menjadi Rp 275,78 miliar.
Sejalan dengan itu, saldo cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) di neraca juga meningkat menjadi Rp1,46 triliun dari Rp1,32 triliun pada akhir tahun lalu. Kredit yang disalurkan tumbuh menjadi Rp110,66 triliun dari Rp106,84 triliun pada Desember 2025.
(mkh/mkh)


















