
Jakarta, CNBC Indonesia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai, perkembangan pasar modal syariah Indonesia menunjukkan kemajuan yang sangat menggembirakan.
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon Merangkap Anggota Dewan Komisioner Hasan Fawzi mengatakan, hal itu tercermin dari data kapitalisasi saham syariah tetap mendominasi sebagian besar kapitalisasi pasar hingga jumlah investor yang terus meningkat.
Hasan menjabarkan, kapitalisasi pasar saham syariah mencapai Rp5.362 triliun, dengan pangsa pasar mencapai 49,28% dari seluruh kapitalisasi pasar di bursa efek. Adapun jumlah saham yang masuk daftar efek syariah, sebanyak 625 saham atau sebesar 63,91% dibandingkan dengan seluruh saham.
“Jumlah investor syariah terus meningkat, nilai kapitalisasi saham syariah tetap mendominasi sebagian besar kapitalisasi pasar, sementara instrumen seperti sukuk negara, sukuk korporasi, reksadana syariah, hingga efek beragun aset syariah, semakin memperluas pilihan pembiayaan dan juga alternatif investasi bagi masyarakat,” ujarnya dalam acara ISEI Jakarta secara virtual, Senin (3/8/2026).
Hasan melanjutkan, pasar modal sebagai sarana penggalangan pendanaan korporasi dengan prinsip syariah juga menunjukkan pertumbuhan yang solid. Per Juli 2026, jumlah seri sukuk korporasi yang beredar meningkat menjadi 329 seri, atau telah tumbuh 12,29% sepanjang tahun ini.
Dari sisi nilainya, outstanding sukuk korporasi mencapai Rp95,14 triliun, atau naik 7,86% secara year-to-date.
Hasan menyampaikan lebih jauh, industri pengelolaan investasi, reksadana syariah juga menunjukkan pertumbuhan yang baik pada Juli 2026. NAB reksadana syariah mencapai Rp93,21 triliun, atau tumbuh sebesar 11,71% year-to-date.
“Dengan nilai NAB tersebut, pangsa pasar reksadana syariah sudah mencapai 14,03% dari seluruh NAB reksadana nasional,” ungkapnya.
Selanjutnya, dari sisi demand atau permintaan, investor pasar modal yang memanfaatkan Sistem Online Trading Syariah (SOTS) sampai dengan Juni 2026 mencapai angka 238.433 pengguna, atau tumbuh sebesar 9,8% sepanjang tahun ini.
“Maka secara umum pasar modal syariah kita lihat masih menunjukkan pertumbuhan yang sangat baik dan stabil, tercatat sampai akhir Juli 2026,” sebutnya.
Menurutnya, Indonesia memiliki mod dasar untuk menjadi pemain utama dalam ekonomi syariah dunia. Sebab, Indonesia merupakan negara dengan populasi muslim terbesar di dunia, memiliki industri halal yang terus berkembang, serta didukung oleh sektor keuangan syariah yang semakin matang, dan juga memiliki pasar modal syariah yang saat ini menjadi salah satu yang terbesar dan terbaik secara global.
Namun demikian, Hasan mengakui, bahwa potensi yang besar tidak secara otomatis akan menjadikan Indonesia sebagai pemimpin ekonomi syariah global. Potensi ini hanya akan menjadi keunggulan apabila diikuti oleh reformasi kebijakan, inovasi produk dan layanan, serta upaya penguatan tata kelola dan peningkatan kepercayaan terutama dari para investasi.
“Apabila kita ingin membawa Indonesia naik kelas sebagai salah satu pusat ekonomi syariah dunia, maka pengembangan pasar keuangan syariah tidak dapat berjalan sendiri. Tantangan terbesar yang masih kita hadapi adalah bagaimana menjembatani kesenjangan antara pasar keuangan dengan ekonomi real,” tegasnya.
“Sehingga pembiayaan syariah benar-benar mengalir kepada sektor yang produktif yang pada gilirannya dapat menciptakan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional,” tutupnya.
(ayh/ayh)


















