
Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah mengakhiri perdagangan pertama awal November ini di zona merah. Mata uang Garuda melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), setelah mencatat penguatan selama dua hari berturut-turut pada akhir pekan lalu.
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup melemah 0,11% ke posisi Rp18.140/US$ pada Senin (2/11/2026). Tekanan sejatinya sudah terlihat sejak pembukaan perdagangan pagi tadi, ketika rupiah dibuka turun 0,03% ke level Rp18.125/US$. Pelemahan kemudian melebar hingga rupiah sempat menyentuh Rp18.175/US$.
Hingga penutupan, rupiah berhasil memangkas pelemahannya sebesar 35 poin dari posisi terlemah hari ini.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,13% ke posisi 101,745.
Rupiah belum mampu memanfaatkan pelemahan dolar AS di pasar global. Koreksi DXY yang biasanya membuka ruang penguatan bagi mata uang lain belum cukup membawa mata uang Garuda keluar dari zona merah.
Pelaku pasar global cenderung menahan langkah menjelang sejumlah agenda penting pekan ini. Salah satu perhatian utama adalah pemilu sela AS pada Selasa, yang akan menentukan keseimbangan kekuatan di Kongres.
Hasil pemilu tersebut dapat memengaruhi kemampuan pemerintahan Presiden Donald Trump dalam menjalankan kebijakan anggaran, perpajakan, dan belanja negara.
Adapun, dari dalam negeri, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan sebesar 3,23%, melandai dari 3,28% pada September dan sedikit lebih rendah dibandingkan konsensus pasar sebesar 3,25%.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono menjelaskan, inflasi tahunan tersebut terjadi seiring kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 109,04 pada Oktober 2025 menjadi 112,56 pada Oktober 2026.
Meski melandai, inflasi masih berada di bagian atas rentang sasaran BI dan pemerintah sebesar 1,5%-3,5%. Kondisi ini membuat perkembangan harga tetap perlu dicermati dalam menentukan arah kebijakan moneter berikutnya.
Di sisi lain, aktivitas manufaktur memberikan kabar positif. PMI manufaktur Indonesia naik menjadi 54,0 pada Oktober, tertinggi dalam delapan bulan terakhir, ditopang peningkatan pesanan baru dan ekspor.
Namun, kenaikan biaya bahan baku dan harga jual produsen menunjukkan tekanan harga belum sepenuhnya mereda. Pelaku pasar pun masih menimbang perbaikan kegiatan ekonomi domestik di tengah ketidakpastian global yang tetap tinggi.
(evw/evw)



















