
Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah belum mampu bangkit pada awal perdagangan Selasa (3/11/2026). Mata uang Garuda kembali dibuka melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, rupiah mengawali perdagangan dengan pelemahan 0,03% ke posisi Rp18.145/US$. Pergerakan tersebut melanjutkan pelemahan pada Senin (2/11/2026), ketika rupiah ditutup turun 0,11% di level Rp18.140/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 09.00 WIB terpantau menguat tipis 0,05% ke posisi 101,799. DXY berbalik naik setelah ditutup melemah 0,13% pada perdagangan sebelumnya.
Rupiah belum mampu memanfaatkan sentimen positif dari penurunan harga minyak dunia pada pembukaan perdagangan. Penguatan tipis DXY pagi ini masih membatasi ruang gerak mata uang Garuda, meski dolar AS berada di sekitar level terendah dalam sebulan.
Harga minyak Brent merosot lebih dari 7% pada perdagangan Senin kemarin, hingga mencatat penurunan harian terdalam dalam beberapa bulan. Koreksi terjadi setelah Iran menyatakan komunikasi dengan AS untuk mengakhiri perang yang telah berlangsung delapan bulan masih berlanjut.
Harapan terhadap penyelesaian konflik meredakan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi. Penurunan harga minyak kemudian membantu mengurangi kekhawatiran inflasi sekaligus menekan imbal hasil obligasi pemerintah AS.
Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun berada di sekitar 4,9145%, sedangkan tenor 30 tahun sebesar 5,2868%. Keduanya sebelumnya turun ke posisi terendah dalam hampir dua bulan.
Turunnya imbal hasil mengurangi dukungan bagi dolar AS dan membuka ruang bagi mata uang lain untuk menguat. Bagi Indonesia yang masih membutuhkan impor minyak, energi yang lebih murah juga berpotensi meredakan kebutuhan valuta asing untuk pembayaran impor.
Namun, ruang penguatan rupiah masih dibayangi kehati-hatian investor. Kekhawatiran terhadap saham-saham terkait kecerdasan buatan atau AI serta ketidakpastian pemilu sela AS membuat dolar tetap dicari sebagai aset aman.
“Harga energi yang lebih murah mengubah dinamika pasar valuta asing, sementara kekhawatiran mengenai AI dan risiko pemilu AS memperkuat pandangan kami bahwa dolar AS masih mendapat dukungan,” kata ahli strategi valuta asing OCBC Sim Moh Siong dalam catatannya.
(evw/evw)


















