• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Pantas Tak Ada Tuyul Curi Uang di Bank, Ini Alasannya

Pantas Tak Ada Tuyul Curi Uang di Bank, Ini Alasannya

August 3, 2025
Bursa Asia Dibuka Bervariasi, Negosiasi AS-Iran Jadi Sorotan

Bursa Asia Dibuka Bervariasi, Negosiasi AS-Iran Jadi Sorotan

April 28, 2026
Di Balik Net Sell Rp2 T Kemarin, Asing Tipis-Tipis Beli Saham Ini

Di Balik Net Sell Rp2 T Kemarin, Asing Tipis-Tipis Beli Saham Ini

April 28, 2026
Laba Bank Permata Naik 16% di Q1-2026, tapi Mesin Bisnis Utama Lesu

Laba Bank Permata Naik 16% di Q1-2026, tapi Mesin Bisnis Utama Lesu

April 28, 2026
IHSG Balik Arah & Net Sell Asing Rp 2 T, Saham Ini Banyak Dibuang

IHSG Balik Arah & Net Sell Asing Rp 2 T, Saham Ini Banyak Dibuang

April 28, 2026
Gak Main-Main! Begini Syarat Insentif Pasar Modal dari Purbaya

Gak Main-Main! Begini Syarat Insentif Pasar Modal dari Purbaya

April 27, 2026
Dony Oskaria Cek Lokasi Tabrakan Kereta Bekasi, Sampaikan Duka & Maaf

Dony Oskaria Cek Lokasi Tabrakan Kereta Bekasi, Sampaikan Duka & Maaf

April 27, 2026
Intip Prospek Saham Perbankan Di Tengah Volatilitas Pasar

Intip Prospek Saham Perbankan Di Tengah Volatilitas Pasar

April 27, 2026
Pasar Modal Untuk Masa Depan, Untuk Gen Z!

Pasar Modal Untuk Masa Depan, Untuk Gen Z!

April 27, 2026
Gerak Saham Sejalan dengan Pergerakan Fundamental Ekonomi

Gerak Saham Sejalan dengan Pergerakan Fundamental Ekonomi

April 27, 2026
Kriteria Danantara Godok Proyek Hilirisasi, 3 Poin Ini Wajib DipenuhiI

Kriteria Danantara Godok Proyek Hilirisasi, 3 Poin Ini Wajib DipenuhiI

April 27, 2026
Dorong Jumlah Investor, OJK Luncurkan Program Pintar Reksa Dana

Dorong Jumlah Investor, OJK Luncurkan Program Pintar Reksa Dana

April 27, 2026
IHSG Tiba-Tiba Ditutup di Zona Merah, Turun 0,32% ke Level 7.106

IHSG Tiba-Tiba Ditutup di Zona Merah, Turun 0,32% ke Level 7.106

April 27, 2026
  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Tuesday, April 28, 2026
Lombok Times News
  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Lombok Times News
No Result
View All Result
Home ENTREPRENEUR

Pantas Tak Ada Tuyul Curi Uang di Bank, Ini Alasannya

9 months ago
in ENTREPRENEUR
Pantas Tak Ada Tuyul Curi Uang di Bank, Ini Alasannya
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Masyarakat Indonesia meyakini sosok tuyul  sebagai makhluk halus berwujud seperti anak kecil berkepala plontos dan hanya mengenakan cawat. Konon, tuyul dipelihara untuk menjalankan tugas mencuri uang secara diam-diam dari satu rumah ke rumah lainnya.

Namun menurut budayawan Suwardi Endraswara dalam bukunya Dunia Hantu Orang Jawa (2004), aktivitas tuyul tak terbatas pada uang tunai semata. Ia juga disebut-sebut mampu mengambil barang-barang hingga dokumen berharga demi menambah kekayaan si majikan.

Kendati demikian, muncul pertanyaan menarik: mengapa aksi tuyul selalu menyasar rumah penduduk? Apakah makhluk ini tak bisa menyelinap masuk ke bank atau mencuri saldo digital seperti e-money?

Hingga kini, belum ada kasus bank yang kehilangan uang akibat dicuri oleh makhluk halus bertubuh anak kecil tersebut. Jika ditelusuri melalui internet, ada banyak jawaban dari pertanyaan ini.

Ada yang mengatakan bahwa tuyul takut terhadap logam karena uang di bank tersimpan di brankas. Selain itu, ada juga yang menyebut jika di bank terdapat “penjaga” berupa makhluk halus lain yang ditakuti tuyul.

Jawaban-jawaban itu hanya sebatas dugaan dari hal yang memang tidak logis. Namun, terlepas dari jawaban atas pertanyaan tersebut, pasti ada alasan sains di balik cerita mistis tuyul. Alasan inilah yang dapat mematahkan keberadaan tuyul dan alasan kenapa tuyul tidak mencuri uang ke bank atau mengambil saldo e-money seseorang.

Untuk memahami penjelasannya, kita harus mundur ke tahun 1870. Pada saat itu itu, Belanda meresmikan kebijakan pintu terbuka atau liberalisasi ekonomi menggantikan sistem tanam paksa. Sekilas perubahan ini membawa angin segar karena dinilai mampu mensejahterakan masyarakat. Namun, kenyataannya ternyata tidak seperti itu.

Menurut Jan Luiten van Zanden dan Daan Marks dalam Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012), liberalisasi ekonomi dinilai melahirkan rezim kolonial baru yang di dalamnya terjadi pengambilalihan perkebunan rakyat untuk diubah menjadi perkebunan besar dan pabrik gula.

Situasi ini kemudian membuat kehidupan masyarakat terpuruk, khususnya para petani kecil di Jawa yang semakin terperosok ke dalam jurang kemiskinan. Sebab, mereka tak lagi memiliki kuasa atas lahan perkebunan.

Di sisi lain ada juga masyarakat yang sejahtera dari sistem ini. Mereka adalah pedagang, baik dari kalangan pribumi atau Tionghoa, yang dalam sekejap menjadi orang kaya baru. Kenaikan pesat kekayaan mereka lantas menimbulkan keheranan bagi para petani yang kian melarat itu. Para petani bingung darimana asal-usul kekayaan mereka

Sebagai informasi, pada saat itu para petani hidup apa adanya. Menurut Ong Hok Ham dalam Wahyu yang Hilang Negeri Yang Guncang (2019), mereka menganut sistem subsisten, yakni bertani sekedar cukup untuk konsumsi sendiri. Jika ada hasil tani lebih maka akan diberi sebagai upeti atau dijual.

Akibatnya, mereka punya pandangan bahwa pemupukan kekayaan adalah proses yang terbuka. Artinya, tiap orang harus melewati proses dan usaha jelas yang dapat dilihat oleh mata orang lain.

Namun, mereka tidak melihat kerja keras dari orang kaya baru itu. Terlebih, mereka tidak dapat membuktikan asal usul kekayaannya jika ditanya para petani. Alhasil, timbul rasa iri dan kecemburuan oleh petani ke pedagang karena bisa mendapat harta sebanyak itu.

Terlebih, menurut George Quinn dalam An Excursion to Java’s Get Rich Quck Tree (2009), para petani selalu beranggapan datangnya kekayaan harus dipertanggungjawabkan. Maka dari itu, ketika orang kaya gagal mempertanggungjawabkan asal kekayaannya, para petani iri dan menuduh uang itu hasil pencurian.

Masyarakat yang kental dengan pandangan mistik membuat para petani memandang pencurian itu adalah kerja sama antara orang kaya dan makhluk supranatural dan kasat mata, salah satunya tuyul.

Jadi, para petani yang iri selalu menuduh orang kaya baru menggunakan cara haram dalam memperoleh kekayaan. Akibat tuduhan ini, Ong Hok Ham dalam buku berjudul Dari Soal Priayi sampai Nyi Blorong (2002) menyebutkan bahwa para petani membuat pedagang dan pengusaha sukses kehilangan status di masyarakat. Mereka dianggap “hina” karena memupuk kekayaan dari cara haram, yakni bersekutu dengan setan. Padahal, ini semua terjadi akibat perubahan kebijakan kolonial Belanda yang membuat pengusaha tertimpa durian runtuh.

Kebencian para petani terhadap orang yang kaya mendadak tidak hanya berdampak pada hubungan personal semata. Transaksi barang oleh orang kaya pun turut berubah. Orang kaya kemudian cenderung membeli barang yang tidak menunjukkan kekayaan mereka sesungguhnya, seperti emas atau barang-barang mewah. Apabila mereka membeli tanah atau rumah maka mereka akan dituduh memelihara setan atau tuyul oleh petani.

Tuduhan tak berdasar ini membuat popularitas tokoh tuyul sebagai subjek mistis dalam hal kekayaan semakin meningkat dan terus populer sampai saat ini di Indonesia. Terlebih, masyarakat Indonesia yang selama bertahun-tahun hidup secara agraris semakin melanggengkan imajinasi dan tuduhan menggunakan tuyul.

(hsy/hsy)

[Gambas:Video CNBC]




Next Article



Kenapa Tuyul Tak Curi Uang di Bank? Ini Penjelasannya




Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Exclusive: Multi-Billion Dollar Shake-Up Looming for Invest in Lombok Property | Marina Bay City  in Lombok

Exclusive: Multi-Billion Dollar Shake-Up Looming for Invest in Lombok Property | Marina Bay City in Lombok

August 12, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Bursa Asia Dibuka Bervariasi, Negosiasi AS-Iran Jadi Sorotan

Bursa Asia Dibuka Bervariasi, Negosiasi AS-Iran Jadi Sorotan

April 28, 2026
Di Balik Net Sell Rp2 T Kemarin, Asing Tipis-Tipis Beli Saham Ini

Di Balik Net Sell Rp2 T Kemarin, Asing Tipis-Tipis Beli Saham Ini

April 28, 2026
Laba Bank Permata Naik 16% di Q1-2026, tapi Mesin Bisnis Utama Lesu

Laba Bank Permata Naik 16% di Q1-2026, tapi Mesin Bisnis Utama Lesu

April 28, 2026
Lombok Times News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .