
Jakarta, CNBC Indonesia – Data perkembangan Produk Domestik Bruto (PDB) selalu menjadi perhatian publik setiap kali diumumkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS). Pertumbuhan PDB menjadi rujukan utama bagi pelaku pasar, pelaku usaha, akademisi, hingga masyarakat umum dalam menilai arah perekonomian nasional.
Sebagaimana diketahui, BPS mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 tumbuh sebesar 5,29% secara tahunan atau year on year (yoy). Di samping itu, BPS juga merekam ekonomi Indonesia semester I-2026 tumbuh sebesar 5,45% dibandingkan realisasi semester I-2025.
“Pertumbuhan ekonomi triwulan 2-2026 berdasarkan PDB atas dasar harga berlaku Rp 6.552,1 triliun atas konstan Rp 3.576,2 triliun sehingga pertumbuhan ekonomi kuartal II- 2026 dibandingkan kuartal II-2025 atau yoy tumbuh 5,29%,” kata Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik, M. Edy Mahmud dalam rilis BPS, dikutip Rabu (12/ 8/2026).
Pertumbuhan ekonomi Indonesia sendiri sebagian besar masih ditopang oleh konsumsi rumah tangga. Sebagai informasi, konsumsi rumah tangga berkontribusi 2,67% pada sumber pertumbuhan sebesar 2,67% dengan distribusi mencapai 53,32% terhadap PDB kuartal II-2026. Dari sisi pertumbuhan, Pengeluaran Konsumsi Rumah Tangga tumbuh 5,06% (yoy). Angka ini sebenarnya melandai dari 5,52% yang dicapai pada kuartal I-2026, mengingat kala itu konsumsi masyarakat mendapat dorongan besar dari Ramadan dan Idulfitri.
Dari sisi kinerja lapangan usaha, industri pengolahan nonmigas nasional mampu tumbuh 5,32% pada kuartal II-2026 atau meningkat dari 5,14% pada kuartal sebelumnya. Selain itu, industri makanan dan minuman juga masih mencatatkan pertumbuhan tinggi sebesar 6,51%. Memang, laju pertumbuhannya sedikit melandai dari 7,04% pada kuartal I-2026, namun angka ini tetap lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan industri pengolahan nonmigas secara keseluruhan.
Tak hanya itu, pada kuartal II-2026, kelompok provinsi di Pulau Jawa mendominasi struktur dan kinerja ekonomi Indonesia dengan kontribusi sebesar 56,47% dan mencatat pertumbuhan sebesar 5,65% (yoy).
Lantas, faktor apa saja yang mampu menjadi penopang, dan apa saja tantangan pertumbuhan ekonomi kuartal II-2026? Apakah variabel investasi menjadi penopang utama?
Untuk membahas secara mendalam terkait pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II-2026, CNBC Indonesia menghadirkan Chief Economist PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), Andry Asmoro dalam Squawk Box, pada Kamis, 13 Agustus 2026, pukul 09.00 WIB.
Melalui program tersebut, Andry Asmoro akan membahas hasil pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026. Komponen-komponen utama pembentuk pertumbuhan ekonomi, seperti konsumsi, investasi, dan belanja pemerintah, beserta kontribusinya terhadap PDB juga akan diulas dalam dialog eksklusif ini.
Untuk itu, jangan lupa saksikan program Squawk Box secara live hanya di CNBC Indonesia TV dan cnbcindonesia.com. Pantau terus cnbcindonesia.com dan CNBC Indonesia TV untuk update informasi seputar ekonomi dan bisnis.
(rah/rah)


















