
Jakarta, CNBC Indonesia – Berbagai sentimen global dan arah perkembangan ekonomi dalam negeri turut mempengaruhi kondisi pasar modal tanah air. Hal ini membuat volatilitas pasar saham Indonesia bergerak cukup tajam dalam beberapa waktu terakhir.
Menghadapi fenomena pasar belakangan ini, Stock Market Analyst CNBC Indonesia Susi Setiawati menilai pasar modal tanah air masih cukup menarik, meski pada Agustus 2026 berpotensi masih ada koreksi. Susi menegaskan koreksi yang akan terjadi masih dalam level wajar, dan dibarengi dengan banyak sentimen positif yang bisa menjadi katalis pasar hingga beberapa waktu ke depan.
“Pasar obligasi dan SRBI [Sekuritas Rupiah Bank Indonesia] sudah ada kenaikan 35% dari permintaan asing. Biasanya kalau pasar obligasi itu sudah ramai harusnya juga akan itu harusnya ngekor ke pasar saham. Apalagi kalau diperhatikan harusnya sudah tidak ada sentimen negatif seperti beberapa bulan ke belakang,” jelas Susi dalam Kelas Cuan Online dengan tema “Ngobrol Bareng GoTo: Akhirnya Untung, What’s Next?”, Selasa (11/8/2026).
Menurut Susi, sentimen positif sudah tergambarkan pada performa sektor yang mulai “menghijau” salah satunya sektor teknologi. Susi setidaknya menyebut dari 20 sektor, 17 di antaranya sudah menghijau, dan hanya sisa tiga sektor yang berada di zona merah.
Masuknya sektor teknologi ke deretan saham yang mulai menghijau menurutnya menjadi tanda-tanda reborn dan berada pada support yang kuat. Jadi, meski saham teknologi sempat turun hingga 16%, Susi menilai hal ini masih dalam batas wajar dan tetap dalam tren penguatan di zona hijau.
Sektor teknologi menurutnya masih cukup menjanjikan, apalagi saat ini, semakin banyak negara yang fokus pada teknologi, seperti yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI), keamanan siber, dan juga financial technology (fintech). Perkembangan ini menurutnya membuat pilihan investor semakin beragam, sehingga investor pun makin cerdas dalam menyusun portofolionya. Hal ini membuat mereka menilai perusahaan teknologi bukan hanya dari sisi pertumbuhan (growth), melainkan juga fundamental.
“Jadi sekarang investor sudah mulai melihat fundamental dan profitabilitas. Oleh karena itu, emiten juga mulai berubah dan fokus untuk mengejar pertumbuhan, profit, revenue dan margin yang membaik, cash flow positif, neraca yang kuat,” jelas Susi.
Pertumbuhan kini bukan hanya dari sisi valuasi pengguna, melainkan dari sisi kinerjanya sehingga bukan lagi menggunakan konsep bakar uang. “Menariknya, yang tadinya ‘bakar duit’ terus, kemudian fokus ke profitability,” lanjutnya.
Adapun Susi menyebut, industri teknologi Indonesia memasuki fase baru pada tahun ini, dari mengejar pertumbuhan pengguna menjadi fokus pada transaksi, monetisasi, dan profitabilitas. Ekosistem terintegrasi seperti PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), menjadi contoh bagaimana teknologi menciptakan nilai di setiap lapisan digital dan memiliki rekam jejak yang baik.
Pertumbuhannya, juga sejalan dengan tren utama tahun ini antara lain, digital payment yang melesat, fintech masuk monetisasi, on demand yang tumbuh sehat, merchant teknologi jadi kunci, serta yang terakhir AI, cloud, dan data center yang jadi lapisan baru.
“Adopsi digital pada tahun ini akan makin massif, regulasi sudah support, terutama dari inklusi keuangan, ekosistem sudah mulai terintegrasi yang menciptakan value chain yang sudah berkelanjutan, data jadi akses strategis, dan tentu saja AI. Bisa jadi AI ini juga akan mengurangi beban dan efisiensi untuk industri teknologi,” pungkas Susi.
Dia pun menilai emiten teknologi yang eksis di Indonesia terus memperkuat fundamentalnya, baik dari sisi kinerja, pangsa pasar, dan terus berinovasi menciptakan nilai tambah. Dengan begitu, kinerja fundamentalnya pun akan tercermin dari harga sahamnya. Berdasarkan data keuangan terakhir, GoTo misalnya berhasil mencatatkan laba bersih dalam dua kuartal beruntun, Rp171 miliar dan Rp252 miliar masing-masing untuk kuartal I dan kuartal II-2026.
(rah/rah)


















