
Jakarta, CNBC Indonesia – Bursa saham Asia bergerak melemah pada perdagangan Kamis (8/10/2026), seiring kenaikan imbal hasil obligasi yang menekan minat investor terhadap aset ekuitas.
Indeks Nikkei 225 Jepang turun 0,4%, Kospi Korea Selatan melemah 0,35%, sementara S&P/ASX 200 Australia terkoreksi 0,4%.
Kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS) dalam beberapa pekan terakhir telah membatasi selera investor terhadap saham, terutama pada sektor-sektor yang paling terdampak oleh tingginya biaya pinjaman. Sektor industri menjadi sektor dengan kinerja terburuk sepanjang pekan berjalan.
Meski demikian, banyak investor masih mempertahankan pandangan optimistis terhadap pasar saham. Mereka berharap dimulainya musim laporan keuangan dapat menjadi katalis yang mendorong pasar melanjutkan kenaikan.
Pada kuartal III 2026, laba perusahaan-perusahaan dalam indeks S&P 500 diperkirakan tumbuh sekitar 30% secara blended, berdasarkan data FactSet. Jika terealisasi, pertumbuhan tersebut akan menjadi kuartal ketiga berturut-turut dengan pertumbuhan laba di atas 25%.
Senior Wealth Advisor Payne Capital Management Courtney Garcia menilai penguatan laba yang tetap solid dapat menopang reli pasar saham meskipun tingkat suku bunga berada di level yang lebih tinggi. Menurutnya, apabila realisasi kinerja keuangan memenuhi atau melampaui ekspektasi, kenaikan suku bunga tidak akan menggagalkan reli pasar.
Pada perdagangan Kamis, investor juga akan mencermati laporan kinerja PepsiCo yang akan dirilis sebelum pembukaan perdagangan bursa Amerika Serikat. Pelaku pasar juga akan memantau data klaim pengangguran mingguan AS sebagai indikator kondisi pasar tenaga kerja.
(fsd/fsd)


















