
Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) lanjut melaju di jalur hijau pada pertengahan sesi I perdagangan Selasa (6/10/2026). Pada pukul 10.12 WIB, IHSG berada di level 6.180,43, naik 61,57 poin atau 1,01%.
Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi tercatat sebanyak 225,69 juta lot dengan nilai transaksi mencapai Rp4.030,75 miliar atau sekitar Rp4,03 triliun. Angka ini meningkat dibandingkan data sebelumnya, yang mencatat nilai transaksi Rp3,86 triliun dan volume 217,52 juta lot, sehingga menunjukkan aktivitas pasar yang semakin ramai.
Mengutip data Refinitiv, sektor penggerak IHSG pada sesi I hari ini antara lain berasald ari sektor energi yang naik 2,5%, disusul oleh sektor industri yang naik 1,1%, dan sektor konsumer non kritikal yang naik 0,8%.
Adapun saham-saham pendorong IHSG antara lain, PT. Bayan Resources Tbk (BYAN), PT. Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT. GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), PT. DCI Indonesia Tbk (DCII), dan PT. Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI).
Sementara saham-saham penekan IHSG antara lain, PT. Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT. Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT. Sinar Mas Multiartha Tbk (SMMA), PT. Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO), dan PT. Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS).
Sentimen perdagangan hari ini datang dari dalam dan luar negeri. Aktivitas jasa Jepang melambat dan kepercayaan konsumen melemah tipis, sementara sektor jasa zona euro justru mencatat penguatan.
Namun, kenaikan harga produsen di kawasan tersebut menunjukkan tekanan inflasi belum mereda, sehingga prospek pertumbuhan tetap harus ditimbang bersama risiko pengetatan kebijakan moneter.
Hari ini, perhatian beralih pada pidato Gubernur Bank of Japan (BOJ) Kazuo Ueda serta neraca perdagangan Amerika Serikat (AS).
Imbal hasil US Treasury tenor panjang melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari dua dekade pada Senin (5/10/2026), setelah investor mencermati data ekonomi terbaru dan menanti risalah rapat The Fed September.
Imbal hasil Treasury 10 tahun naik 3 basis poin menjadi 5,307%. Sempat melonjak 7 basis poin ke 5,349%, level tertinggi sejak 3 April 2002.
Sementara imbal hasil Treasury 30 tahun naik 3 basis poin menjadi 5,661%, setelah sempat menyentuh 5,703% atau level tertinggi sejak akhir Mei 2002. Satu basis poin setara 0,01%.
Dari dalam negeri, antrean penawaran umum menjadi perhatian terkait pendanaan korporasi, sementara aturan pengalihan pengawasan bursa mineral menambah perkembangan penting dalam penataan pasar keuangan.
OJK menyampaikan kemarin bahwa terdapat 29 rencana penawaran umum dalam antrean dengan total nilai indikatif Rp26,47 triliun. Sementara itu, penghimpunan dana melalui penawaran umum hingga September telah mencapai Rp186,03 triliun, dengan target sepanjang 2026 sebesar Rp250 triliun.
Antrean tersebut menunjukkan perusahaan masih memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan. Namun, nilai indikatif belum merupakan dana yang terealisasi, dan penawaran umum tidak seluruhnya berarti IPO saham.
(rob/rob)

















