• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Dolar Tak Lagi Menakutkan, Bank Dunia: Saatnya Suku Bunga Rendah!

Dolar Tak Lagi Menakutkan, Bank Dunia: Saatnya Suku Bunga Rendah!

October 7, 2025
Dolar Sentuh Rp 18.000, BI Rate Bisa Naik Bulan Depan?

Dolar Sentuh Rp 18.000, BI Rate Bisa Naik Bulan Depan?

September 29, 2026
Waskita Penuhi Pokok Obligasi Rp 722 Miliar

Waskita Penuhi Pokok Obligasi Rp 722 Miliar

September 29, 2026
Dasco Temui Ketua OJK, Pastikan Sektor Keuangan Aman

Dasco Temui Ketua OJK, Pastikan Sektor Keuangan Aman

September 29, 2026
IHSG Masih Tertekan, Sesi II Ditutup Melemah 0,43% ke Level 6.121

IHSG Masih Tertekan, Sesi II Ditutup Melemah 0,43% ke Level 6.121

September 29, 2026
Jurus Investasi Emas -Saham Saat IHSG & Rupiah Anjlok Berjamaah

Jurus Investasi Emas -Saham Saat IHSG & Rupiah Anjlok Berjamaah

September 29, 2026
Ekonom Bilang Dolar Bisa Rp18.200, Waspada 3 Faktor Ini

Ekonom Bilang Dolar Bisa Rp18.200, Waspada 3 Faktor Ini

September 29, 2026
Bank Asing Proyeksi Rupiah Bakal Segini di Akhir 2026

Bank Asing Proyeksi Rupiah Bakal Segini di Akhir 2026

September 29, 2026
Top! KUR Bank Mandiri Tembus Rp29,53 T Hingga Agustus 2026

Top! KUR Bank Mandiri Tembus Rp29,53 T Hingga Agustus 2026

September 29, 2026
DPR Tetapkan UU APBN 2027, Partai di DPR Sorot Persoalan Ini!

DPR Tetapkan UU APBN 2027, Partai di DPR Sorot Persoalan Ini!

September 29, 2026
Rupiah Jebol Level Rp 18.000/USD, Risiko Ini Harus Diwaspadai

Rupiah Jebol Level Rp 18.000/USD, Risiko Ini Harus Diwaspadai

September 29, 2026
Rupiah Berhasil Menguat, Dolar AS Parkir di Level Rp17.960

Rupiah Berhasil Menguat, Dolar AS Parkir di Level Rp17.960

September 29, 2026
Asing Net Sell Rp365 Miliar di Sesi I, Lego ADMF Hingga BBCA

Asing Net Sell Rp365 Miliar di Sesi I, Lego ADMF Hingga BBCA

September 29, 2026
  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Tuesday, September 29, 2026
Lombok Times News
  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Lombok Times News
No Result
View All Result
Home Lifestyle

Dolar Tak Lagi Menakutkan, Bank Dunia: Saatnya Suku Bunga Rendah!

12 months ago
in Lifestyle
Dolar Tak Lagi Menakutkan, Bank Dunia: Saatnya Suku Bunga Rendah!
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Dunia atau World Bank mengungkapkan fenomena pelemahan kurs dolar terhadap berbagai mata uang negara-negara kawasan Asia dan Pasifik tengah terjadi saat ini. Kondisi ini membuat tekanan inflasi dalam tren pelemahan, bahkan membuat maraknya tren deflasi.

“Baru-baru ini, terjadi apresiasi mata uang regional terhadap dolar AS yang juga telah mengurangi tekanan inflasi. Dan terakhir, ada negara-negara seperti Tiongkok dan Thailand saat ini yang menghadapi tekanan deflasi, bukan inflasi,” kata Kepala Ekonom Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik Aaditya Mattoo saat konferensi pers secara daring, Selasa (7/10/2025).

Kondisi itu menjadi momentum untuk memacu pertumbuhan ekonomi lebih cepat, karena ruang penurunan suku bunga acuan yang rendah menjadi sangat terbuka lebar bagi bank sentral di berbagai negara.

Apalagi, suku bunga acuan berbagai bank sentral negara-negara berkembang menurut World Bank saat ini masih lebih tinggi ketimbang negara-negara maju. Maka, aliran modal asing masih berpotensi deras masuk meski suku bunga acuan terus dilakukan penyesuaian untuk mendorong pertumbuhan ekonomi lebih cepat.

“Jadi saya merasa bahwa saat ini, suku bunga di banyak negara di kawasan ini, sebenarnya, lebih tinggi daripada suku bunga di negara-negara industri. Akibatnya, terjadi banyak aliran modal masuk, yang tentu saja berkontribusi pada depresiasi nilai tukar,” ujar Aaditya.

“Jadi saya pikir sebagian besar negara di kawasan ini, termasuk, misalnya, Thailand dan Indonesia, mampu melonggarkan kebijakan moneter untuk mendorong aktivitas ekonomi domestik,” tegasnya.

Sebagai informasi, Dolar Amerika Serikat (AS) sebetulnya kini juga tengah mengalami penurunan dalam persentase cadangan mata uang global. Penurunan ini bahkan mencapai level terendah nya dalam 30 tahun.

Berdasarkan data laporan terbaru dari International Monetary Fund (IMF) tentang komposisi cadangan mata uang global, pangsa dolar AS dalam cadangan devisa bank sentral dunia mengalami penurunan menjadi 56,3% di kuartal II-2025 atau turun 1,5% dibandingkan pada kuartal I-2025 yang sebesar 57,59%.

Pangsa dolar AS saat ini sekaligus menjadikannya yang terendah dalam tiga dekade atau sejak 1995. Pada saat itu pangsa pasar dolar AS sebagai cadangan mata uang global sebesar 58,96%.

Penurunan porsi dolar AS dalam cadangan mata uang global lebih banyak disebabkan oleh pelemahan nilai tukar dolar AS dibandingkan aksi jual terhadap greenback.

Menurut rilis press IMF, faktor nilai tukar yang melemah menyumbang hampir 92% sebagai penyebab dari penurunan pangsa pasar dolar AS di global tersebut.

Hal ini terjadi karena banyak bank sentral di dunia yang melaporkan bahwa cadangan devisanya ke IMF dalam denominasi dolar AS. Ketika nilai dolar nya melemah, maka nilai cadangan dalam mata uang lain seperti euro, poundsterling, hingga yen jepang otomatsi akan terlihat lebih tinggi saat dikonversi ke dolar AS.

Lebih jauh, pelemahan dolar tahun ini dipicu oleh sejumlah faktor fundamental.

Mulai dari kebijakan tarif perdagangan yang digulirkan Presiden AS Donald Trump meningkatkan ketidakpastian global dan menekan kepercayaan terhadap greenback. Kemudian adanya tekanan berulang Trump terhadap The Federal Reserve untuk memangkas suku bunga semakin menambah beban bagi dolar.

Hingga kekhawatiran pasar terhadap defisit fiskal yang melebar usai disahkannya undang-undang pajak “One Big Beautiful Bill Act” pada 4 Juli turut menambah sentimen negatif.

Data IMF menunjukkan bahwa meskipun pangsa dolar AS dalam cadangan devisa global terus berada dalam tren penurunan, mata uang ini masih menjadi cadangan devisa terbesar di dunia.

Euro menempati posisi kedua dengan pangsa 21,13%, diikuti yen Jepang sebesar 5,57%. Selanjutnya, poundsterling 4,83%, dolar Kanada 2,61%, yuan China 2,12%, dolar Australia 2,09%, serta franc Swiss yang hanya menyumbang 0,16%.

(arj/haa)

[Gambas:Video CNBC]




Next Article



Airlangga Buka-bukaan 2 Pegangan Investor Kala Ekonomi Susah




Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Transmart Full Day Sale Hadir Lagi, Saatnya Belanja di Akhir Pekan

Transmart Full Day Sale Hadir Lagi, Saatnya Belanja di Akhir Pekan

July 11, 2026
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Dolar Sentuh Rp 18.000, BI Rate Bisa Naik Bulan Depan?

Dolar Sentuh Rp 18.000, BI Rate Bisa Naik Bulan Depan?

September 29, 2026
Waskita Penuhi Pokok Obligasi Rp 722 Miliar

Waskita Penuhi Pokok Obligasi Rp 722 Miliar

September 29, 2026
Dasco Temui Ketua OJK, Pastikan Sektor Keuangan Aman

Dasco Temui Ketua OJK, Pastikan Sektor Keuangan Aman

September 29, 2026
Lombok Times News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .