
Jakarta, CNBC Indonesia – Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengenang, pada awal implementasinya, Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) tidak langsung mendapat penerimaan dari seluruh industri perbankan.
Bank Indonesia (BI) menghadapi tantangan untuk meyakinkan industri perbankan saat pertama kali memperkenalkan pada 2019.
Bank yang telah memiliki sistem pembayaran sendiri perlu diyakinkan mengenai manfaat penggunaan standar yang sama. Sejumlah bank saat itu telah memiliki kode QR pembayaran sendiri dan belum melihat kebutuhan untuk beralih ke standar bersama.
“Saya ingat sekali, waktu itu saya baru bergabung pertama di Bank Indonesia 2019, dan saya gabung di Agustus, kalau nggak salah minggu pertama, pas 17 Agustus 2019, launching lah itu yang namanya QRIS. QRIS, waktu itu saya juga pikir, apa ini QRIS? Dan awalnya begitu susah, karena beberapa bank masih punya QR nya sendiri,” kenang Destry kepada CNBC Indonesia dikutip Senin (12/10/2026).
Destry mengatakan, BI terus mendorong penerapan QRIS secara konsisten meskipun menghadapi kritik dan berbagai tantangan. Bank sentral berupaya meyakinkan industri bahwa standardisasi akan membuat sistem pembayaran lebih terintegrasi dibandingkan penggunaan beragam kode QR dan perangkat pembayaran secara terpisah.
Meyakinkan bank pun tidak lepas dari berbagai kritikan dan juga masukan untuk menyempurnakan sistem pembayaran QRIS. Keyakinan teguh BI akan visi penggunaan QRIS sebagai sistem pembayaran yang inklusif terus dipegang secara persisten hingga akhirnya saat ini berhasil.
“Jadi, akhirnya 2019 itu mulailah dia berjalan pelan-pelan, di tengah segala macam lah, tadi yang masukkan, kritikan, dan sebagainya, kita persisten jalan, dan sekarang alhamdulillah sudah 67 juta pengguna dari QRIS. Kemudian, merchant-nya pun juga sudah 46,7 juta, di mana 96%-nya adalah UMKM,” ucap Desry.
Destry menilai QRIS adalah sistem pembayaran digital yang mempermudah masyarakat bertransaksi sekaligus memperluas inklusi keuangan.salah
QRIS mampu menjawab tantangan inklusivitas, bagaimana masyarakat belum mempunyai akses keuangan yang sama dengan yang lain.
“Tapi dengan QRIS, bahkan sekarang kalau kita belanja di pasar-pasar, pasar basah gitu ya, itu mereka sudah senangnya pakai QRIS. Jadi, preferensi dari masyarakat juga berubah, preferensi dari pedagang juga berubah, sehingga adanya QRIS itu membuat mereka menjadi lebih mudah, lebih nyaman, dan andal QRIS-nya” tutur Destry.
Bank Indonesia kini juga memperluas penggunaan QRIS untuk transaksi lintas negara atau cross-border. Langkah ini bertujuan mempermudah wisatawan Indonesia bertransaksi di negara mitra, sekaligus memberikan kemudahan bagi wisatawan asing saat berbelanja di Indonesia.
Destry mengatakan, BI terus menjajaki kerja sama dengan sejumlah bank sentral untuk memperluas jangkauan QRIS lintas negara. Menurutnya, minat dari negara lain juga terus berkembang.
“Jadi, tidak cukup hanya domestik, karena kita juga melihat, eh banyak turis-turis lho datang ke sini gitu, kenapa kita nggak kerjasama dengan bank sentralnya, sehingga mempermudah baik turis kita ke sana, atau turis mereka ke sini gitu,” imbuhnya.
Saat ini, QRIS cross border sudah terhubung di 7 negara, baik transaksi inbound dan outbound. Adapun 7 negara sudah tergabung sebelumnya adalah China, Korea Selatan, Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, dan Timor Leste.
(ras/haa)



















