
Jakarta, CNBC Indonesia – Wakil Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Dradjad Hari Wibowo meminta investor menganalisis dan menghitung sendiri investasinya di Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah penilaian lembaga indeks internasional.
Dradjad menilai investor perlu mencermati informasi secara objektif dengan mempertimbangkan data dan fundamental perusahaan serta kondisi perekonomian nasional sebagai dasar pengambilan keputusan investasi.
Dengan begitu, keputusan investasi tidak serta-merta dipengaruhi oleh penilaian lembaga seperti FTSE Russell.
“Nanti kalau FTSE Russell, kemudian Bloomberg atau apa mengeluarkan apapun, itu kita perhatikan. Namun, kita yang tahu emiten-emiten kita. Hitung sendiri. Karena ini uang teman-teman sendiri,” ujar Dradjad dalam siaran pers, dikutip Rabu (4/11/2026).
Menurut Dradjad pandangan lembaga indeks internasional tetap perlu diperhatikan sebagai salah satu referensi dalam menilai pasar modal. Pemerintah juga melanjutkan pembenahan pasar modal melalui peningkatan transparansi, tata kelola, dan penegakan aturan.
Ia pun menekankan, Indonesia telah memiliki fondasi transparansi yang perlu terus diperkuat, termasuk keterbukaan informasi mengenai kepemilikan saham.
Pemerintah juga terus membuka komunikasi dengan lembaga indeks dan pelaku pasar untuk mendorong perbaikan yang diperlukan serta menciptakan pasar modal yang lebih sehat dan adil bagi investor.
Di sisi lain, investor juga perlu melakukan analisis secara mandiri dengan mempertimbangkan kinerja perusahaan, valuasi saham, dan prospek fundamental ekonomi Indonesia.
Dengan demikian, keputusan investasi tidak hanya didasarkan pada sentimen atau informasi yang berkembang di pasar.
Dia juga menyoroti pentingnya penguatan investor domestik sebagai salah satu modal untuk menjaga ketahanan pasar modal Indonesia.
Menurutnya, pengembangan peran investor domestik perlu didukung oleh ekosistem investasi yang sehat, kepastian aturan, serta tata kelola yang baik sehingga pasar modal dapat menjalankan perannya secara optimal dalam mendukung pembiayaan dunia usaha dan perekonomian nasional.
Dalam kesempatan tersebut, Dradjad juga menekankan pentingnya komunikasi ekonomi yang didukung data. Persepsi mengenai daya beli masyarakat, misalnya, perlu dipahami dengan melihat perubahan pola konsumsi dan perkembangan berbagai sektor ekonomi secara menyeluruh.
Informasi yang disampaikan secara objektif dan mudah dipahami diharapkan dapat membantu masyarakat melihat kondisi perekonomian dengan lebih proporsional.
Selain itu, Dradjad menyoroti potensi pertumbuhan ekonomi daerah sebagai salah satu modal perekonomian nasional. Pada semester I 2026, ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,45% secara nasional. Sebanyak 17 dari 38 provinsi mencatat pertumbuhan di atas rata-rata nasional.
Dari jumlah tersebut, terdapat tujuh provinsi yang tumbuh di atas 6%. Hal tersebut menunjukkan adanya sumber pertumbuhan di berbagai wilayah yang perlu terus dioptimalkan melalui penguatan sektor produktif, inovasi, dan iklim investasi yang kondusif.
“Artinya, pesan saya simpel saja, teman-teman. Silahkan anda dengarkan, lihat video medsos, tetapi selalu tolong cek data. Karena at the end of the day, it’s our decision, it’s our money,” tegasDradjad.
Sekadar catatan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan cukup berat sepanjang Oktober 2026 dan mencatatkan kinerja terburuk sepanjang tahun ini.
Melansir data Stockbit pada Senin (2/11/2026), sepanjang bulan kesepuluh tahun ini IHSG amblas 16,70% dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Angka ini menjadi yang terburuk sepanjang 2026.
Jika dirinci, pada Januari 2026 IHSG tertekan sebesar 3,67%, kemudian turun 1,13% pada Februari 2026, dan terjun bebas dengan penurunan sebesar 14,42% pada Maret 2026. Pelemahan ini berlanjut pada 3 bulan berikutnya dengan rincian penurunan sebesar 1,30% pada April 2026, kemudian 11,92% pada Mei 2026, dan 7,90% pada Juni 2026.
Tekanan berat IHSG sepanjang Oktober tahun ini dipengaruhi oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang mengeluarkan konsultasi publik terkait rencana perubahan klasifikasi pasar modal Indonesia dari emerging market menjadi standalone market pada 16 Oktober 2026.
Rencana tersebut masih dalam tahap konsultasi dengan pelaku pasar dan keputusan final akan diumumkan paling lambat pada 30 Juni 2027.
“MSCI akan mengumumkan keputusan akhir pada akhir Juni 2027 dan mungkin memberikan pembaruan sementara mengenai tanggapan peserta pasar selama periode konsultasi,” tulis pengumuman tersebut, dikutip Jumat (16/10/2026).
(arj/arj)



















