• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Rupiah Tembus Rp18.000, Inikah Efek Hukuman MSCI?

Rupiah Tembus Rp18.000, Inikah Efek Hukuman MSCI?

October 16, 2026
Emtek (EMTK) Jual Saham Entitas Usaha PT Indopay Merchant Services

Emtek (EMTK) Jual Saham Entitas Usaha PT Indopay Merchant Services

November 2, 2026
BUMA (DOID) Bikin Anak Usaha Baru di Luar Tambang, Ini Tujuannya

BUMA (DOID) Bikin Anak Usaha Baru di Luar Tambang, Ini Tujuannya

November 2, 2026
Saham HSC Keluar Dari IHSG hingga Rupiah Anjlok ke Rp18.140/USD

Saham HSC Keluar Dari IHSG hingga Rupiah Anjlok ke Rp18.140/USD

November 2, 2026
Antam (ANTM) Mau Bagi Dividen, Potensi Cuannya di Atas 10%

Antam (ANTM) Mau Bagi Dividen, Potensi Cuannya di Atas 10%

November 2, 2026
Fundamental Kuat, Laba Sebelum Pajak Superbank Melesat 376% di Q3-2026

Fundamental Kuat, Laba Sebelum Pajak Superbank Melesat 376% di Q3-2026

November 2, 2026
Ada Masalah Keuangan, 2 Saham Masuk ke Pemantauan Khusus BEI

Ada Masalah Keuangan, 2 Saham Masuk ke Pemantauan Khusus BEI

November 2, 2026
Danantara Investment (DIM) Kantongi Laba Rp705,73 M hingga April 2026

Danantara Investment (DIM) Kantongi Laba Rp705,73 M hingga April 2026

November 2, 2026
Antam (ANTM) Mau Bagi Dividen, Potensi Cuamnya di Atas 10%

Antam (ANTM) Mau Bagi Dividen, Potensi Cuamnya di Atas 10%

November 2, 2026
Medco (MEDC) Mau Tebar Dividen Interim Rp544 M, Cek Jadwal Cairnya

Medco (MEDC) Mau Tebar Dividen Interim Rp544 M, Cek Jadwal Cairnya

November 2, 2026
IHSG Ditutup Menguat 0,79% ke 5.096,83

IHSG Ditutup Menguat 0,79% ke 5.096,83

November 2, 2026
Hanya Bursa RI dan India yang Buka Data Pemegang Saham di Atas 1%

Hanya Bursa RI dan India yang Buka Data Pemegang Saham di Atas 1%

November 2, 2026
Laba Bersih GOTO Rp441 Miliar di Kuartal III-2026, Ini Penopangnya

Laba Bersih GOTO Rp441 Miliar di Kuartal III-2026, Ini Penopangnya

November 2, 2026
  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Monday, November 2, 2026
Lombok Times News
  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Lombok Times News
No Result
View All Result
Home Market

Rupiah Tembus Rp18.000, Inikah Efek Hukuman MSCI?

2 weeks ago
in Market
Rupiah Tembus Rp18.000, Inikah Efek Hukuman MSCI?
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menembus Rp18.068/US$ pagi ini. Pelemahan tersebut, salah satunya dipengaruhi oleh usulan MSCI untuk menurunkan status pasar saham Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar tersendiri.

Kepala Ekonom Bank Permata Joshua Pardede mengatakan pengumuman MSCI tersebut meningkatkan tekanan terhadap rupiah melalui memburuknya kepercayaan investor dan meningkatnya risiko keluarnya modal asing.

“Dampaknya terlihat pada perdagangan 16 Oktober 2026, ketika IHSG turun tajam sebesar 10,10% menjadi 5.271, sementara rupiah melemah sekitar 0,69% menjadi Rp18.063 per dolar AS, dari Rp17.938 pada hari sebelumnya,” katanya kepada CNBC Indonesia pada Jumat (16/10/2026).

Di sisi lain, imbal hasil SBN tenor sepuluh tahun juga meningkat sekitar 8 basis poin menjadi 7,34%, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset keuangan Indonesia.

Joshua menjelaskan bahwa ketika investor asing menjual saham dan memutuskan menarik dananya dari Indonesia, mereka akan menukarkan rupiah hasil penjualan menjadi dolar AS sehingga permintaan valuta asing meningkat dan menekan nilai tukar.

Namun, tidak seluruh penjualan saham otomatis menyebabkan dana keluar negeri karena sebagian investor dapat mengalihkan investasinya ke Surat Berharga Negara (SBN) atau instrumen keuangan domestik lainnya.

Selain karena MSCI, Joshua melihat tekanan rupiah juga tidak semata-mata disebabkan pengumuman MSCI, tetapi diperberat oleh ketidakpastian global, tingginya harga minyak, serta kecenderungan suku bunga Amerika Serikat bertahan tinggi.

“Risiko terbesarnya adalah apabila persoalan tata kelola pasar saham berkembang menjadi penurunan kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia secara keseluruhan, sehingga tekanan tidak hanya terjadi pada IHSG, tetapi juga menjalar ke rupiah dan pasar obligasi,” ucapnya.

Joshua melihat risiko pelemahan rupiah masih cukup besar apabila investor asing terus mengurangi kepemilikan saham Indonesia sebelum keputusan akhir MSCI pada Juni 2027.

“Dalam jangka pendek, Bank Indonesia perlu memperkuat stabilisasi rupiah melalui intervensi pasar valuta asing secara terukur, mengoptimalkan transaksi lindung nilai, serta menjaga kecukupan likuiditas perbankan agar tekanan pasar saham tidak meluas menjadi gangguan stabilitas keuangan,” tuturnya.

Joshua pun mengatakan bahwa ada baiknya Bank Indonesia mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap tekanan eksternal.

“Sementara itu, kenaikan BI-Rate dari posisi 5,75% sebaiknya dipertimbangkan apabila pelemahan rupiah berlangsung terus-menerus, disertai arus modal keluar yang besar, penurunan cadangan devisa, dan meningkatnya risiko inflasi,” ujarnya.

Namun menurutnya langkah moneter saja tidak cukup karena akar persoalan MSCI berkaitan dengan transparansi kepemilikan saham, keandalan jumlah saham yang beredar di masyarakat, dan pengawasan terhadap transaksi tidak wajar.

“OJK dan Bursa Efek Indonesia harus segera menunjukkan hasil perbaikan tata kelola yang nyata dan dapat dipercaya investor internasional,” pungkasnya.

MSCI Soal Kepercayaan Investor Terhadap RI

Sementara itu, Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Indonesia Fakhrul Fulvian menanggapi keputusan MSCI untuk membuka konsultasi mengenai kemungkinan reklasifikasi Indonesia dari Emerging Market menjadi Standalone Market perlu ditanggapi serius.

Menurutnya, persoalan tersebut harus dibaca secara serius karena kekhawatiran MSCI bukan muncul secara tiba-tiba.

“Ini bukan sekadar persoalan IHSG turun. Ketika MSCI mulai mempertanyakan apakah Indonesia masih layak berada dalam kelompok Emerging Market, maka yang sedang diuji adalah kepercayaan terhadap institusi pasar kita,” ujar Fakhrul dikutip Jumat (16/10/2026).

“Karena itu menurut saya ini bukan lagi sekadar masalah free float. Ini sudah menjadi masalah trust.”

Fakhrul mengatakan Indonesia perlu menjawab kritik tersebut dengan perbaikan transparansi yang jauh lebih kuat.

Menurutnya, investor global perlu memiliki keyakinan mengenai siapa beneficial owner sebuah perusahaan, seberapa besar saham yang benar-benar tersedia bagi publik, apakah struktur kepemilikan memiliki konsentrasi tertentu, serta apakah informasi tersebut dapat diverifikasi secara konsisten.

“Pasar global tidak cukup hanya melihat angka free float yang dilaporkan. Mereka ingin mengetahui apakah free float tersebut benar-benar investable dan apakah struktur kepemilikannya cukup transparan.”

Fakhrul juga menilai perbaikan regulasi tidak akan cukup apabila tidak diikuti enforcement yang kuat.

Investor membutuhkan kepastian bahwa aturan berlaku secara konsisten, termasuk terhadap transaksi yang berpotensi manipulatif, struktur kepemilikan yang tidak transparan, serta perilaku yang dapat mengganggu integritas pasar.

“Governance bukan hanya jumlah aturan yang dimiliki. Governance adalah keyakinan investor bahwa aturan tersebut benar-benar dijalankan.”

Ia menilai Indonesia harus menggunakan momentum MSCI ini untuk memperkuat surveillance pasar, enforcement, disclosure, perlindungan investor minoritas, dan akuntabilitas emiten.

“Regulation without enforcement tidak menghasilkan trust.”

(haa/haa)

[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Transmart Full Day Sale Hadir Lagi, Saatnya Belanja di Akhir Pekan

Transmart Full Day Sale Hadir Lagi, Saatnya Belanja di Akhir Pekan

July 11, 2026
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Emtek (EMTK) Jual Saham Entitas Usaha PT Indopay Merchant Services

Emtek (EMTK) Jual Saham Entitas Usaha PT Indopay Merchant Services

November 2, 2026
BUMA (DOID) Bikin Anak Usaha Baru di Luar Tambang, Ini Tujuannya

BUMA (DOID) Bikin Anak Usaha Baru di Luar Tambang, Ini Tujuannya

November 2, 2026
Saham HSC Keluar Dari IHSG hingga Rupiah Anjlok ke Rp18.140/USD

Saham HSC Keluar Dari IHSG hingga Rupiah Anjlok ke Rp18.140/USD

November 2, 2026
Lombok Times News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .