Jakarta, CNBC Indonesia – PT Kereta Api Indonesia (Persero) berencana mengimpor 23 rangkaian Kereta Rel Listrik (KRL) bekas dari Jepang. Ini dilakukan untuk meningkatkan layanan dimana jumlah penumpang tumbuh signifikan.
Manajemen PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA memilih untuk tetap berada pada fokus utamanya sebagai produsen sarana perkeretaapian. Rencana pengadaan armada, termasuk kebutuhan KRL yang akan digunakan untuk layanan Jabodetabek, berada dalam konteks pemenuhan kebutuhan operator.
Di sisi lain, INKA terus menjalankan pengembangan kemampuan produksi untuk menopang kebutuhan industri kereta api nasional.
“Terkait impor KRL, penjelasan mengenai kebutuhan dan rencana pengadaan sarana merupakan ranah KAI. INKA berfokus pada pemenuhan pesanan serta peningkatan kualitas dan keandalan sarana yang diproduksi,” ujar Senior Manager Corporate Communication and Representative Office INKA, Nanang Agung Rohmandiyas, kepada CNBC Indonesia, Sabtu (26/9/2026).
Penguatan industri tersebut tidak hanya berkaitan dengan jumlah kereta yang diproduksi. Kemampuan teknologi, tenaga kerja, hingga rantai pasok juga menjadi bagian dari pembangunan industri perkeretaapian yang lebih mandiri.
PT Inka Foto: PT Inka
|
Pengembangan kapasitas industri menjadi penting karena kebutuhan sarana perkeretaapian terus berkembang. Di sisi lain, operator membutuhkan armada yang mampu menjaga kapasitas dan keandalan layanan dalam jangka panjang.
“Pengembangan INKA juga diarahkan untuk mendukung pemerintah dalam membangun ekosistem perkeretaapian nasional melalui penguasaan teknologi, peningkatan kompetensi SDM, serta penguatan industri pendukung dalam negeri,” kata Nanang.
Upaya tersebut mencakup kemampuan untuk mengembangkan produk secara lebih mandiri. Industri dalam negeri diharapkan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan untuk mengembangkan sarana perkeretaapian sesuai kebutuhan nasional.
Dengan kapasitas tersebut, INKA dapat mengambil peran dalam rantai industri perkeretaapian dari sisi desain hingga produksi. Penguatan industri pendukung juga menjadi salah satu faktor yang menentukan seberapa besar nilai tambah dapat bertahan di dalam negeri.
“Kontribusi INKA diharapkan dapat memperkuat kemampuan Indonesia untuk merancang, memproduksi, dan mengembangkan sarana perkeretaapian secara mandiri dalam jangka panjang,” ujar Nanang.
(fys/wur)




















