
Jakarta, CNBC Indonesia – IHSG mengakhiri perdagangan Selasa (22/9) di zona merah dengan melemah 1,69% ke level 6.277,04.
Sejumlah saham menjadi penggerak indeks, di antaranya AMMN yang naik 1,07%, ISAT menguat 4,33%, dan CUAN bertambah 2,15%. Di sisi lain, tekanan terbesar berasal dari BYAN yang turun 9,71%, BBRI melemah 3,64%, serta DSSA terkoreksi 4,39%.
Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp671,63 miliar di pasar reguler, sementara secara keseluruhan pasar tercatat net sell Rp131,72 miliar.
Dari 11 sektor yang diperdagangkan, 10 sektor berakhir melemah. Sektor energi menjadi sektor dengan penurunan terdalam, yakni 2,76%, sedangkan sektor Consumer Cyclical menjadi satu-satunya sektor yang menguat dengan kenaikan 0,33%.
Pergerakan bursa saham Amerika Serikat berlangsung variatif. Dow Jones turun 0,36% ke level 51.863, S&P 500 bergerak relatif datar dengan perubahan 0,00% di level 7.764, sedangkan Nasdaq naik 0,45% ke level 27.244. Pelaku pasar mencermati pengumuman BI rate pada Rabu (23/9), sementara aksi jual investor asing terhadap saham-saham domestik telah berlangsung selama tiga hari berturut-turut, termasuk pada saham perbankan besar. ETF EIDO dan indeks MSCI Indonesia juga terkoreksi masing-masing 1,62% dan 1,54%.
Dari sisi aksi korporasi, ada PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 23,35% secara tahunan menjadi US$1,41 miliar pada semester I 2026, dari US$1,15 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Pertumbuhan pendapatan tersebut diikuti kenaikan laba bersih sebesar 796,52% menjadi US$275,32 juta, dibandingkan US$30,71 juta pada semester I 2025. Dengan demikian, margin laba bersih perseroan meningkat menjadi 19,46% dari sebelumnya 2,68%.
Kinerja pendapatan ditopang oleh kenaikan produksi minyak dan gas menjadi 170 mboepd pada semester I 2026, dibandingkan 143 mboepd pada periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut berada di batas atas guidance produksi 2026, dengan kontribusi gas sekitar 72%.
Selain peningkatan produksi, pendapatan juga didukung kenaikan harga minyak. Sementara itu, biaya kas produksi tetap terjaga di US$8,40 per boe, berada di bawah guidance sebesar US$10 per boe.
Dari sisi laba bersih, peningkatan terutama berasal dari perubahan kontribusi laba entitas asosiasi dan ventura bersama yang mencapai US$124,11 juta, dibandingkan rugi US$11,81 juta pada semester I 2025. Dari jumlah tersebut, sekitar 83,93% atau US$104,17 juta berasal dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), berbalik dari rugi US$31,11 juta pada periode sebelumnya. Perubahan tersebut sejalan dengan operasional penuh smelter tembaga AMMN serta efisiensi beban.
Untuk 2026, MEDC mempertahankan guidance produksi minyak dan gas pada 165-170 mboepd, penjualan listrik sebesar 4.550 GWh, serta biaya kas produksi di bawah US$10 per boe. Perseroan menaikkan guidance belanja modal 2026 menjadi US$450 juta-US$475 juta untuk bisnis migas dan hingga US$50 juta untuk ketenagalistrikan. Belanja tersebut diarahkan untuk mendukung sejumlah proyek pertumbuhan, termasuk Senoro Fase 2A dan Sakakemang.
Selanjutnya, ada PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) yang memperoleh persetujuan RUPSLB untuk mengakuisisi 14 perusahaan yang memiliki portofolio rumah sakit dari First Real Estate Investment Trust (First REIT).
Nilai transaksi tersebut diperkirakan mencapai Rp6,91 triliun, setara 65,54% dari ekuitas perseroan per 30 Juni 2026 yang tercatat sebesar Rp10,54 triliun.
Pelaksanaan akuisisi akan dilakukan dalam dua tahap. Tahap pertama mencakup delapan perusahaan dengan nilai transaksi Rp4,08 triliun, sedangkan tahap kedua mencakup enam perusahaan dengan nilai Rp2,83 triliun. Seluruh rangkaian transaksi ditargetkan selesai pada 2027.
Untuk pendanaan, SILO memperoleh fasilitas pinjaman sindikasi hingga Rp14,50 triliun dari BNI, CIMB Niaga, BCA, DBS Indonesia, MUFG Bank, dan HSBC. Fasilitas tersebut dijamin dengan sejumlah aset, termasuk hak tanggungan atas properti rumah sakit yang menjadi bagian dari transaksi akuisisi.
Sementara itu, PT Baramulti Suksessarana Tbk (BSSR) tengah menetapkan dividen tunai interim I untuk tahun buku 2026 sebesar US$60 juta atau Rp406,16 per saham.
Keputusan tersebut sejalan dengan kinerja keuangan perseroan pada semester I 2026. BSSR mencatat laba bersih sebesar US$63,01 juta, meningkat 26,86% secara tahunan dari US$49,67 juta pada semester I 2025. Perseroan juga memiliki saldo laba ditahan yang belum ditentukan penggunaannya sebesar US$190,13 juta.
Dividen interim tersebut mencerminkan dividend payout ratio sebesar 95,22% terhadap laba bersih semester I 2026.
Pada perdagangan terakhir, Senin (21/9), saham BSSR ditutup pada level Rp5.475 per saham. Berdasarkan harga tersebut, dividen interim yang ditetapkan perseroan mencerminkan dividend yield sebesar 7,42%.
Cum date dividen di pasar reguler dan negosiasi ditetapkan pada 29 September 2026, sedangkan pembayaran dividen dijadwalkan berlangsung pada 9 Oktober 2026.
Rekomendasi Saham Hari Ini
Disclaimer: Ingat, bahwa segala analisis dan rekomendasi saham dalam artikel ini bersifat informatif sekaligus bukan merupakan ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu.
(ayh/ayh)


















