
Jakarta, CNBC Indonesia – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan bahwa pasar modal Indonesia sempat mengalami masa konsolidasi pada kuartal II 2026, namun mulai menunjukkan tanda-tanda pemulihan yang kuat di awal kuartal III 2026.
Hal tersebut disampaikan Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi dalam konferensi pers usai Rapat Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di kantor Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Senin (3/8/2026).
“Pasar modal RI mengalami konsolidasi pada Q2 2026, namun mulai pulih di awal Q3 2026,” ujar Friderica, yang akrab disapa Kiki.
Kiki memaparkan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup di level 5.643,19 pada kuartal II 2026, terkoreksi 19,93% secara quarter-to-quarter (qoq). Koreksi ini sejalan dengan rebalancing portofolio yang dilakukan investor di tengah dinamika pasar global.
Namun demikian, tren berbalik arah signifikan memasuki Juli 2026. Per 31 Juli 2026, IHSG ditutup di level 6.236, atau menguat 10,51% secara month-to-date (mtd).
Kiki juga melaporkan Nilai Aktiva Bersih (NAB) reksa dana pada kuartal II 2026 sebesar Rp652,9 triliun. Memasuki Juli, tren tersebut terjaga positif, dengan NAB reksa dana per 30 Juli 2026 mencapai Rp663,26 triliun, tumbuh 1,59% qoq.
Dari sisi penggalangan dana korporasi, aktivitas ini juga tetap terjaga di pasar modal domestik. Per 31 Juli 2026, nilai penghimpunan dana tercatat Rp113,13 triliun secara year-to-date (ytd), termasuk melalui instrumen Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) yang mencapai Rp98,27 triliun.
(fsd/fsd)


















