Jakarta, CNBC Indonesia – PT Bank Aladin Syariah Tbk. (BANK) mencatatkan laba bersih periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik sebesar Rp23,32 miliar pada kuartal I-2026. Perolehan itu turun 30,31% secara tahunan atau year on year (yoy) dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp33,47 miliar.
Menilik laporan keuangan periode 31 Maret 2026, bank digital syariah itu mencatatkan pendapatan dari penyaluran dana sebesar Rp218,53 miliar, naik 12,7% yoy. Namun, bagi hasil untuk pemilik dana investasi tercatat melonjak hampir dua kali lipat menjadi Rp192,65 miliar.
Alhasil, pendapatan setelah distribusi bagi hasil tercatat tersisa Rp25,88 miliar, turun 72,7% yoy pada tiga bulan pertama tahun ini.
Tercatat, pembiayaan Bank Aladin tumbuh 13% yoy menjadi Rp5,3 triliun dari setahun sebelumnya sebesar Rp4,7 triliun.
Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) tercatat sebesar Rp10,558 triliun sepanjang kuartal I-2026. Penghimpunan dana tersebut naik 78,76% secara tahunan, menunjukkan bank agresif menghimpun simpanan masyarakat. Hal ini wajar, karena bank digital ini masih menawarkan bagi hasil maksimal 8,5% per tahun.
Meski demikian, itu tidak diiringi dengan fungsi intermediasi yang optimal, tercermin dari rasio perbandingan pembiayaan terhadap simpanan alias financing to deposit ratio (FDR) sebesar 50,19% per Maret 2026. Angka itu jauh dari ketentuan Bank Indonesia (BI) yakni di kisaran 78%-92%, dan secara tahunan turun drastis 2.923 basis poin (bps) dari setahun sebelumnya.
Merinci dari sisi aset, Bank Aladin mencatatkan surat berharga yang dimiliki sebesar Rp4,99 triliun. Jumlah itu naik 111,74% yoy dari setahun sebelumnya Rp2,73 triliun.
Presiden Direktur Bank Aladin Syariah, Koko Tjatur Rachmadi mengakui bahwa kepemilikan di surat berharga merupakan salah satu strategi untuk menjaga arus kas dan likuditas.
“Kita juga melihat memang Q1 ini kan penuh ketidakpastian,” kata Koko kepada CNBC Indonesia, Senin (27/4/2026).
“Jadi kita juga cukup hati-hati. Tapi kita tetap menjaga pertumbuhan. Jadi surat berharga yang naik tinggi itu emang salah satu strategi kita aja.”
Koko menjelaskan strategi tersebut juga mempertimbangkan kemungkinan suku bunga acuan akan ditahan di level tinggi dalam waktu yang lama alias higher for longer. Di sisi lain, ia mengatakan pihaknya masih wait and see terhadap kondisi sektor riil.
Mengenai pemberian special rate hingga 8,5%, Koko menyebut bagi bank biasa itu nampak tinggi tetapi bagi bank-bank digital itu kompetitif.
“Itu kompetitif. Karena apa? Kan kita bank digital itu kita pun efisiensinya kan tinggi ya. Sehingga sebagian dari keuntungan kita itu kan kita lempari ke customer untuk menjadi bagian dari daya tarik di dana pihak ketiga kita,” terang Koko.
Ia menambahkan, pemberian special rate tinggi tersebut juga sangat selektif, hanya untuk nasabah perorangan.
(fsd/fsd)
Add
as a preferred
source on Google


















