
Jakarta, CNBC Indonesia – Emiten perbankan PT Bank MNC Internasional Tbk. (BABP) membukukan laba bersih tahun berjalan senilai Rp46,63 miliar sepanjang 9 bulan tahun ini. Laba ini turun 22,78% secara tahunan (year-on-year/YoY).
Dilansir dari laporan keuangan kuartal III/2026, kenaikan beban bunga lebih tinggi dibandingkan dengan pendapatan bunga, yaitu 51,05% YoY dibandingkan dengan 6,52% YoY. Dari sini, pendapatan bunga bersih MNC Bank pun tertekan 44,52% YoY menjadi Rp389,76 miliar dari sebelumnya Rp434,29 miliar.
Pendapatan dari komisi turut mengalami pertumbuhan 56,59% YoY menjadi Rp100,3 miliar dari Rp43,71 miliar. Namun, keuntungan penjualan aset keuangan turun 42% menjadi Rp17,25 miliar.
Di sisi lain, pos beban mengalami pembengkakan, seperti beban tenaga kerja yang naik 9,51% YoY menjadi Rp184,45 miliar, kemudian beban promosi 3,83% YoY menjadi Rp17,93 miliar, dan beban lainnya naik 7,82% YoY menjadi Rp248,08 miliar.
Laba operasional BABP pun susut 18,12% YoY menjadi Rp52,42 miliar dengan laba non operasional Rp6,72 per akhir September 2026. Usai dikurangi pajak penghasilan, laba bersih perseroan pun tercatat Rp46,63 miliar, susut 13,8% YoY dari Rp60,39 miliar pada kuartal III tahun lalu.
Bank milik konglomerat Hary Tanoesoedibjo tersebut juga mencatatkan penurunan aset 8,29% YoY dari Rp20,49 triliun per akhir kuartal III/2026 menjadi Rp18,79 triliun. Meski demikian, kredit yang diberikan tumbuh 8,38% YoY dari Rp11,09 triliun menjadi Rp12,02 triliun.
Untuk himpunan dana pihak ketiga (DPK), terdapat penurunan 17,12% YoY pada kuartal III tahun ini, yaitu dari Rp13,66 triliun menjadi Rp11,32 triliun. Penurunan tersebut khususnya pada jenis simpanan deposito yang menyusut 24,35% YoY dari Rp11,24 triliun menjadi Rp8,50 triliun. Sementara, giro tercatat senilai Rp1,20 triliun dan tabungan senilai Rp1,62 triliun.
Dari sisi rasio keuangan, rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) MNC Bank mengalami penyusutan dari 24,50% menjadi 20,68%. Kualitas kredit yang diberikan juga mengalami pemburukan dengan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) gross naik dari 4,00% menjadi 4,64% dan NPL net dari 2,80% menjadi 3,50%.
Rasio kredit kualitas rendah juga meningkat dari 24,41% menjadi 34,84%. Di tengah tekanan suku bunga, margin bunga bersih (NIM) perseroan tertekan dari 3,20% menjadi 2,76%. Adapun rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) meningkat seiring dengan penurunan DPK, yaitu dari 80,87% menjadi 105,83%.
(asr/asr)


















