
Jakarta, CNBC Indonesia – Rupiah berhasil membalikkan keadaan dan mengakhiri perdagangan terakhir pekan ini dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup menguat tipis 0,03% ke posisi Rp17.880/US$ pada perdagangan Jumat (25/9/2026).
Perjalanan rupiah sepanjang hari berlangsung cukup berwarna. Mata uang Garuda dibuka melemah 0,08% di level Rp17.900/US$, kemudian terperosok hingga Rp17.935/US$.
Tekanan tersebut berangsur mereda menjelang penutupan. Rupiah mampu menguat 55 poin dari posisi terlemah hariannya hingga berakhir di zona hijau.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,12% ke posisi 101,169.
Koreksi DXY memberikan ruang bagi rupiah untuk bangkit dari tekanan dan membalikkan pelemahan pada awal perdagangan. Kendati demikian, indeks dolar AS masih bertahan di level yang relatif tinggi setelah sebelumnya menyentuh posisi terkuat dalam dua bulan.
Penguatan dolar dalam beberapa hari terakhir ditopang kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dan meningkatnya ekspektasi bahwa The Federal Reserve (The Fed) masih akan menaikkan suku bunga.
Imbal hasil US Treasury tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak Juni 2004. Sementara itu, imbal hasil tenor 10 tahun menyentuh posisi tertinggi dalam hampir dua dekade.
Data ekonomi AS turut memperkuat ekspektasi pengetatan moneter. Jumlah klaim awal tunjangan pengangguran turun menjadi 197.000 pada pekan lalu, lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar sebanyak 201.000. Data tersebut mengindikasikan pasar tenaga kerja AS masih cukup kuat.
Kekhawatiran terhadap inflasi juga kembali meningkat setelah harga minyak melonjak hampir 4%. Kenaikan terjadi menyusul serangan rudal kelompok Houthi terhadap Arab Saudi yang kembali memunculkan kekhawatiran mengenai gangguan pasokan energi.
Sejumlah pejabat The Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan apabila inflasi tidak mereda. Presiden The Fed New York John Williams dan Presiden The Fed Philadelphia Anna Paulson menilai pengetatan tambahan kemungkinan masih diperlukan.
Berdasarkan CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga sedikitnya 25 basis poin pada pertemuan The Fed Oktober mencapai 68,6%, meningkat dari 55,4% pada pekan sebelumnya.
Di tengah tekanan global tersebut, Bank Indonesia (BI) memastikan akan terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah agar bergerak sesuai dengan fundamental ekonomi.
“Bank Indonesia terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar sesuai fundamental dan memastikan mekanisme pasar berjalan baik,” ujar Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Erwin Gunawan Hutapea dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (25/9/2026).
BI juga memperkuat strategi operasi moneter yang berorientasi pada mekanisme pasar atau pro-market. Kebijakan tersebut dilakukan untuk mengelola struktur suku bunga di pasar uang sekaligus meningkatkan efektivitas stabilisasi nilai tukar.
Koordinasi dan komunikasi dengan korporasi serta pelaku pasar juga terus diperkuat. Langkah tersebut diarahkan untuk mendorong aliran masuk modal asing sekaligus mengelola kebutuhan valuta asing di dalam negeri.
(evw/evw)



















