• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
BI Rate Naik 100 Basis Poin dalam Sebulan, Bakal Naik Lagi?

BI Rate Naik 100 Basis Poin dalam Sebulan, Bakal Naik Lagi?

June 19, 2026
MSCI Tetapkan Pasar Modal RI Emerging Market

MSCI Tetapkan Pasar Modal RI Emerging Market

June 19, 2026
IHSG Bergejolak, Saham Ini Malah Terbang

IHSG Bergejolak, Saham Ini Malah Terbang

June 19, 2026
IHSG Bergejolak Usai, Saham Ini Malah Terbang

IHSG Bergejolak Usai, Saham Ini Malah Terbang

June 19, 2026
178 Sekolah Rakyat Tampung 48.972 Siswa Tahun Ajaran Baru 2026/2027

178 Sekolah Rakyat Tampung 48.972 Siswa Tahun Ajaran Baru 2026/2027

June 19, 2026
Awasi Pemda, Purbaya Kini Bisa Telusuri Penggunaan TKD Tiap Rp1

Awasi Pemda, Purbaya Kini Bisa Telusuri Penggunaan TKD Tiap Rp1

June 19, 2026
Ditjen Pajak Sita 2 Rekening PT AG, Isi Saldonya Rp33,49 M

Ditjen Pajak Sita 2 Rekening PT AG, Isi Saldonya Rp33,49 M

June 19, 2026
Breaking! Dolar AS Menguat ke Rp17.830

Breaking! Dolar AS Menguat ke Rp17.830

June 19, 2026
Setelah Pengumuman MSCI, IHSG Pagi Ini Naik 0,47%

Setelah Pengumuman MSCI, IHSG Pagi Ini Naik 0,47%

June 19, 2026
Pelni Rombak Direksi, Budi Setyawan Wijaya Jadi Direktur Utama

Pelni Rombak Direksi, Budi Setyawan Wijaya Jadi Direktur Utama

June 19, 2026
Rekomendasi Saham Hari Ini: Ada TPIA hingga PANI

Rekomendasi Saham Hari Ini: Ada TPIA hingga PANI

June 19, 2026
Bursa Asia Bergerak Variatif, Kospi Kembali Cetak Rekor Baru

Bursa Asia Bergerak Variatif, Kospi Kembali Cetak Rekor Baru

June 19, 2026
IHSG Turun 0,78%, Asing Ketahuan Serok Saham Ini

IHSG Turun 0,78%, Asing Ketahuan Serok Saham Ini

June 19, 2026
  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Friday, June 19, 2026
Lombok Times News
  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Lombok Times News
No Result
View All Result
Home ENTREPRENEUR

BI Rate Naik 100 Basis Poin dalam Sebulan, Bakal Naik Lagi?

3 hours ago
in ENTREPRENEUR
BI Rate Naik 100 Basis Poin dalam Sebulan, Bakal Naik Lagi?
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 100 basis poin (bps) sepanjang tahun 2026. Adapun, langkah BI ini ditempuh untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tingginya gejolak ketidakpastian global.

Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI menaikkan 50 bps pada Mei lalu. Kemudian, dalam RDG Mingguan awal Juni, BI kembali menaikkan suku bunga acuan 25 bps hingga 5,50%. Pada RDG 17-18 Juni 2026, BI kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,75%. Dengan kenaikan ini, total kenaikan suku bunga acuan sepanjang tahun ini mencapai 100 bps.

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rahman mengatakan keputusan BI untuk menaikkan suku bunga BI sebesar 25bps lagi menjadi 5,75% pada pertemuan 26 Juni, setelah kenaikan suku bunga 25bps yang mengejutkan sebelumnya di bulan yang sama, bukanlah hal yang sepenuhnya tidak terduga.

Sebelumnya, Bank Mandiri melihat bahwa masih ada ruang untuk kenaikan suku bunga kebijakan lebih lanjut selama sisa tahun 2026. Namun, kenaikan terbaru ini terjadi lebih awal dari perkiraan Mandiri, karena Mandiri hanya mengantisipasi kenaikan suku bunga tambahan pada awal kuartal ketiga tahun 2026.

“Menurut pandangan kami, kenaikan suku bunga ini mencerminkan langkah antisipasi yang bertujuan untuk mengurangi risiko kenaikan premi risiko pada aset keuangan Indonesia di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan domestik, khususnya setelah sikap kebijakan Fed yang lebih hawkish dari yang diperkirakan pada pertemuan FOMC 26 Juni,” ujar Faisal.

Dari perspektif fundamental makroekonomi, ekonomi Indonesia tetap relatif tangguh. Namun, Faisal menilai kerentanan domestik juga tetap tinggi, terutama karena potensi dampak tertunda dari harga energi global yang lebih tinggi dan depresiasi rupiah terhadap prospek inflasi Indonesia, posisi fiskal, dan neraca eksternal.

“Faktor-faktor ini dapat meningkatkan tekanan inflasi impor melalui kenaikan biaya input dan berkontribusi pada pelebaran defisit kembar,” paparnya.

Dari sisi fiskal, penerimaan pemerintah yang lebih lemah dari perkiraan dapat membatasi fleksibilitas fiskal pada saat kewajiban pembayaran utang dan pengeluaran subsidi energi meningkat, terutama jika pemerintah terus mengejar agenda pertumbuhan ekspansif.

Sementara itu, sektor eksternal kemungkinan akan menghadapi tekanan yang meningkat dari impor yang lebih tinggi, terutama untuk energi dan barang setengah jadi, sementara ekspor mungkin tetap lesu di tengah perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian yang terus-menerus. Akibatnya, defisit transaksi berjalan dapat melebar lebih jauh, menambah tekanan pada rupiah.

“Tantangan-tantangan ini telah berkontribusi pada premi risiko yang lebih tinggi pada aset keuangan Indonesia dan tekanan depresiasi yang berkelanjutan pada rupiah,” tambahnya.

Selain itu, sentimen investor mungkin tetap waspada menjelang peristiwa-peristiwa penting, termasuk tinjauan klasifikasi pasar MSCI yang akan datang dan penilaian peringkat kedaulatan S&P untuk Indonesia pada Juni 2026 dan Juli 2026.

Dengan demikian, dia melihat bahwa lintasan suku bunga BI di masa depan sebagian besar akan bergantung pada bagaimana ketidakpastian global dan domestik berkembang.

“Periode ketidakpastian yang berkepanjangan dapat menyebabkan premi risiko yang lebih tinggi pada aset keuangan Indonesia, yang berpotensi mendorong BI untuk mempertahankan kebijakan moneter yang lebih ketat, yang mengindikasikan kenaikan suku bunga lebih lanjut,” katanya.

Sebaliknya, Faisal menilai jika risiko eksternal dan domestik secara bertahap mereda dan kondisi pasar keuangan stabil, kebutuhan akan pengetatan kebijakan lebih lanjut dapat berkurang, memungkinkan BI memiliki fleksibilitas yang lebih besar dalam menyesuaikan respons kebijakannya sejalan dengan perkembangan ekonomi fundamental.

“Karena kami memperkirakan tekanan ini akan secara bertahap mereda pada paruh kedua tahun 2026, untuk saat ini kami mempertahankan perkiraan dasar kami bahwa suku bunga BI akan tetap di 5,75% untuk sisa tahun 2026,” tegasnya.

Namun, jika tekanan eksternal dan domestik berlanjut atau meningkat, Faisal melihat kemungkinan bagi BI untuk menerapkan kenaikan suku bunga kebijakan lebih lanjut untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan pasar keuangan.

(haa/haa)



Add

logo_svg

as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Exclusive: Multi-Billion Dollar Shake-Up Looming for Invest in Lombok Property | Marina Bay City  in Lombok

Exclusive: Multi-Billion Dollar Shake-Up Looming for Invest in Lombok Property | Marina Bay City in Lombok

August 12, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
MSCI Tetapkan Pasar Modal RI Emerging Market

MSCI Tetapkan Pasar Modal RI Emerging Market

June 19, 2026
IHSG Bergejolak, Saham Ini Malah Terbang

IHSG Bergejolak, Saham Ini Malah Terbang

June 19, 2026
IHSG Bergejolak Usai, Saham Ini Malah Terbang

IHSG Bergejolak Usai, Saham Ini Malah Terbang

June 19, 2026
Lombok Times News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .