Jakarta, CNBC Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan cukup dalam pada perdagangan sesi kedua hari ini, Kamis (30/4/2026), dengan penurunan lebih dari 2%. Pada akhir sesi dua, IHSG tercatat berada di level 6.956,80, turun 144 poin (-2,03%) dan menjadi titik terendah IHSG sepanjang tahun 2026. Bahkan, sejak awal tahun IHSG tercatat telah terkoreksi nyaris 20%.
Pelemahan signifikan IHSG terjadi seiring dengan melemahnya rupiah imbas ketidakpastian ekonomi global akibat ketegangan di Timur Tengah yang pada akhirnya berimbas pada kenaikan harga minyak mentah global.
Hanya 133 saham menguat, 576 saham melemah, dan 105 saham stagnan. Nilai transaksi tercatat mencapai Rp 21,88 triliun dengan volume perdagangan sekitar 48,20 miliar saham dalam lebih dari 2,66 juta kali transaksi.
Seluruh sektor perdagangan melemah, dengan koreksi paling dalam dicatatkan oleh infrastruktur, barang baku dan energi.
Pelemahan Nilai Tukar Imbas Kenaikan Harga Minyak Global
Mata uang yang terpapar harga minyak telah jatuh 2,2% pada bulan April, menandai penurunan bulanan terbesar sejak Oktober 2024. Harga minyak yang tinggi menambah daftar kekhawatiran yang menantang mata uang ini, termasuk kesehatan fiskal.
Harga minyak melonjak ke level tertinggi empat tahun setelah Axios melaporkan bahwa AS sedang mempertimbangkan potensi aksi militer terhadap Iran, meningkatkan kekhawatiran tentang gangguan pasokan.
“Guncangan Timur Tengah telah memperketat kendala yang dihadapi Indonesia. Tagihan minyak yang lebih tinggi memperburuk pertimbangan fiskal, dan premi risiko yang lebih tinggi membuat IDR lebih sensitif,” kata Krystal Tan, ekonom Asia di ANZ.
Tan juga menaikkan perkiraan inflasi Indonesia untuk tahun 2026 menjadi 3,5% dari 3,0%, dan memperkirakan bank sentral Indonesia akan menaikkan suku bunga dua kali, masing-masing sebesar 25 basis poin, menjadi 5,25% pada akhir tahun.
Sebagian besar saham negara berkembang di Asia mengalami penurunan, dipimpin oleh penurunan 2% lebih IHSG ke level terendah sejak 16 Maret.
Di Asia Timur, saham Korea Selatan KOSPI turun 1,4%, sementara indeks acuan Taiwan kehilangan 1%, karena harga minyak yang lebih tinggi dan kekhawatiran tentang gangguan pasokan menutupi lonjakan laba chip Samsung Electronics 005930.KS50 kali lipat dan pendapatan yang sebagian besar positif dari raksasa teknologi AS.
Meningkatnya ketegangan di Timur Tengah mengancam untuk memperlambat momentum reli yang didorong oleh teknologi di Seoul dan Taipei, yang membantu kedua indeks acuan mencatatkan bulan perdagangan terbaik mereka dalam beberapa dekade.
Saham Taiwan mencatatkan kinerja bulanan terbaiknya sejak Desember 2001, sementara KOSPI naik 30,6% pada bulan April, bulan terbaiknya sejak Januari 1998. Kepercayaan pada saham teknologi meningkat karena produsen chip terus membukukan pendapatan yang kuat karena permintaan yang didorong oleh AI. Samsung naik 88,5% tahun ini, sementara SK Hynix 000660.KS hampir berlipat ganda menjadi kapitalisasi pasar $625,75 miliar.
Di Asia Tenggara, bursa saham Filipina turun hingga 0,9%, saham di Thailand turun 0,4%.
Berlawanan dengan tren keseluruhan, bursa saham Singapura naik 0,6%, mengakhiri penurunan selama enam sesi berturut-turut. Kenaikan terutama dipimpin oleh bank-bank besar di negara kota tersebut, setelah DBS Group membukukan pendapatan kuartal pertama di atas perkiraan.
Mata uang Asia lainnya jatuh. Peso Filipina sedikit melemah menyentuh titik terendah sepanjang masa di 61,693 per dolar pada awal sesi perdagangan. Ringgit Malaysia turun 0,5%.
Analis Doo Financial Futures mengatakan, sentimen yang menghantam IHSG masih seputar ketidakpasian geopolitik global yang masih terjadi saat ini.
“Secara umum memang global masih risk off dari ketidakpastian perdamaian di timteng, harga minyak yg kembali naik, merespon ancaman militer terbaru Trump dan FOMC yang hawkish semalam,” ujarnya saat dihubungi oleh CNBC Indonesia, Kamis (30/4/2026).
Selain itu, belum ada pengungkit dari dalam negeri yang dapat dijadikan angin segar bagi pasar saham Indonesia. Nilai mata uang Rupiah terus mencetak pelemahan tertinggi, ditambah dengan kekhawatiran defisit anggaran. Belum lagi persoalan rebalancing dari MSCI yang juga masih menghantui.
“Belum ada sentimen yang bisa mengunkit, walau valuasi beberapa saham blue chip sudah cukup menarik, namun downside geopolitikal dan AI bubble masih mengancam,” tambahnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Analis MNC Sekuritas Herditya yang mengatakan bahwa penguatan IHSG akan cenderung terbatas dan masih ada potensi pelemahan ke depannya.
“Dari sisi sentimen, nilai tukar Rupiah yg masih melemah terhadap USD di 17.390 masih menjadi sentimen pasar modal,” sebutnya.
Selain itu, pergerakan bursa regional Asia pun cenderung koreksi ditambah dengan emiten-emiten perbankan dan energi yang membebani pergerakan IHSG.
“Dalam report teknikal kami ada potensi IHSG menembus area 6917 dan akan mengarah ke 6727-6800. Untuk sentimen sendiri hingga saat ini belum ada yang mendukung adanya penguatan,” pungkasnya.
(fsd/fsd)
Add
as a preferred
source on Google



















