• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Pasar Uang RI Penuh Gejolak, LPEM Sarankan BI Hati-Hati

Pasar Uang RI Penuh Gejolak, LPEM Sarankan BI Hati-Hati

April 17, 2026
Jangan Simpan Uang Banyak di Rekening, Maksimal Segini Menurut Pakar

Jangan Simpan Uang Banyak di Rekening, Maksimal Segini Menurut Pakar

April 18, 2026
Didukung OJK, Dana Pensiun Mau Tambah Investasi Pasar Modal

Didukung OJK, Dana Pensiun Mau Tambah Investasi Pasar Modal

April 18, 2026
Bersaing di Pasar RI, Ban Asal China Tawarkan 3 Keunggulan

Bersaing di Pasar RI, Ban Asal China Tawarkan 3 Keunggulan

April 18, 2026
Syarat Jadi Nasabah Prioritas BRI-Mandiri-BNI, Saldonya Minimal Segini

Syarat Jadi Nasabah Prioritas BRI-Mandiri-BNI, Saldonya Minimal Segini

April 18, 2026
97 Pinjol RI Terlibat Kartel dan Didenda Rp755 M, Ini Daftarnya

97 Pinjol RI Terlibat Kartel dan Didenda Rp755 M, Ini Daftarnya

April 18, 2026
Gak Cuma Pembangkit, PGE Incar 3 Proyek Turunan Geothermal

Gak Cuma Pembangkit, PGE Incar 3 Proyek Turunan Geothermal

April 18, 2026
Prabowo Dorong Ekonomi Digital, Asuransi Siber Siap Berekspansi

Prabowo Dorong Ekonomi Digital, Asuransi Siber Siap Berekspansi

April 18, 2026
Ikut Arahan BP BUMN & Danantara, WSKT Siap Percepat Restrukturisasi

Ikut Arahan BP BUMN & Danantara, WSKT Siap Percepat Restrukturisasi

April 18, 2026
AS Perpanjang Izin Beli Minyak Rusia, Indonesia Bisa Tenang

AS Perpanjang Izin Beli Minyak Rusia, Indonesia Bisa Tenang

April 18, 2026
Alamtri (ADRO) Bagi Dividen US7,5 Juta Setara 99,96% Laba 2025

Alamtri (ADRO) Bagi Dividen US$447,5 Juta Setara 99,96% Laba 2025

April 18, 2026
Jurus Emiten Kemasan Plastik Hadapi Lonjakan Harga Bahan Baku

Jurus Emiten Kemasan Plastik Hadapi Lonjakan Harga Bahan Baku

April 18, 2026
Heboh Penemuan Emas 30.000 Ton di Banten, Dirampok Asing

Heboh Penemuan Emas 30.000 Ton di Banten, Dirampok Asing

April 18, 2026
  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Saturday, April 18, 2026
Lombok Times News
  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Lombok Times News
No Result
View All Result
Home ENTREPRENEUR

Pasar Uang RI Penuh Gejolak, LPEM Sarankan BI Hati-Hati

1 day ago
in ENTREPRENEUR
Pasar Uang RI Penuh Gejolak, LPEM Sarankan BI Hati-Hati
Share on FacebookShare on Twitter




‎Jakarta, CNBC Indonesia – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia menyarankan Bank Indonesia untuk tetap menahan suku bunga di 4,75%.
‎
‎Hal ini mempertimbangkan kondisi inflasi yang berada di atas target hingga nilai tukar rupiah yang tertekan oleh konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS).
‎
‎”LPEM FEB UI merekomendasikan Bank Indonesia menahan suku bunga di 4,75%. Pertimbangan tidak lepas dari kondisi inflasi yang berada di atas target namun masih menghadapi tekanan kompleks. Berkurangnya efek diskon tarif listrik telah menahan inflasi, namun risiko kenaikan tetap ada terutama dari lonjakan permintaan saat Ramadhan dan Idul Fitri serta kenaikan harga energi global,” mengutip artikel resmi LPEM FEB UI pada Jumat (17/4/2026).

‎
‎”Di saat yang sama, konflik antara AS-Iran menekan rupiah. Pelemahan ini datang dari kombinasi faktor global dan kerentanan domestik,” sambungnya.
‎
‎LPEM FEB UI juga memaparkan bahwa penurunan suku bunga BI saat ini memiliki tiga risiko utama. Pertama, mempersempit selisih bunga dengan luar negeri. Kedua, menambah tekanan pada rupiah, dan terakhir adalah mendorong inflasi lewat kenaikan harga impor dan energi.
‎
‎LPEM FEB UI juga menyoroti kondisi sektor keuangan Indonesia yang dalam sebulan terakhir penuh dengan gejolak. Hal ini juga turut menjadi faktor pertimbangan rekomendasi LPEM FEB UI untuk menahan laju suku bunga.

‎
‎Diawali dengan MSCI acuan utama investor global lebih dulu memberi sinyal negatif, yang disusul Moody’s lembaga pemeringkat kredit global yang menurunkan prospek Indonesia dari stabil menjadi negatif.
‎
‎”Di sinilah pasar mulai ragu,” imbuh LPEM FEB UI.
‎
Untungnya, ‎pemerintah merespons cepat dengan merombak Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (DK OJK) dan menerbitkan aturan transparansi free float saham. Upaya perbaikan tata kelola mulai ditunjukkan. Namun LPEM FEB UI menilai kepercayaan belum pulih.
‎
‎Tekanan pun semakin dalam karena pada 4 Maret 2026, Fitch Ratings turut menurunkan prospek Indonesia menjadi negatif. Alasannya adalah ketidakpastian arah kebijakan, tekanan fiskal di tengah kondisi global yang tidak stabil.
‎
‎Tidak berselang lama, harga minyak melonjak hingga US$99 per barel akibat konflik AS-Iran.

‎
‎”Angka ini jauh melampaui asumsi APBN 2026 sebesar US$70 per barel. Akibatnya muncul kekhawatiran terhadap kemampuan pemerintah menjaga defisit tetap di bawah batas 3%,” kata LPEM FEB UI.
‎
‎Kemudian, pemerintah merespon dengan menggelar konferensi pers pada 13 Maret 2026. Di mana, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan tiga skenario defisit dari 3,18% pada skenario optimis hingga 4,06% pada skenario terburuk tergantung pada konflik harga minyak dan nilai tukar.
‎
‎Sehari berselang, Presiden Prabowo mengambil posisi berbeda. Dalam rapat kabinet, ia menyatakan tidak akan melebarkan defisit, dengan fokus pada penghematan dan target keseimbangan anggaran dalam 2-3 tahun.
‎
‎”Perbedaan pernyataan ini justru mengirim sinyal negatif. Pemerintah dinilai mulai menjauh dari prinsip kehati-hatian fiskal yang telah dibangun dan dijaga sejak era reformasi,” ucap LPEM FEB UI.
‎
‎Tekanan pun merambat ke pasar keuangan. LPEM FEB UI mencatat arus keluar obligasi bersih mencapai US$0,77 miliar sejak 28 Februari 2026. Sementara pasar saham mengalami inflow tipis US$0,03% akibat pergeseran sektor energi.

‎
‎Secara total, US$0,63 miliar modal keluar dalam 30 hari dan sebesar US$0,75 miliar modal keluar sejak konflik Iran dengan AS dimulai.
‎
‎Di sisi lain, yield SBN tenor 1 tahun meningkat 83 basis poin menjadi 5,65% dan untuk tenor 10 tahun naik 36 basis poin menjadi 3 basis poin.
‎
‎”Premi risiko meningkat secara luas. Pasar mulai memperhitungkan ketidakpastian ekonomi yang lebih tinggi,” konklusi LPEM FEB UI.
‎
‎Nilai tukar rupiah juga turut merasakan dampaknya. Rupiah mendekati titik terlemah dan turun sekitar 3,64% secara tahunan (yoy).
‎
‎Pada saat yang sama, bantalan eksternal ikut tergerus. Cadangan devisa pada Februari 2026 turun US$ 2,7 miliar, dari US$ 154,6 miliar menjadi US$ 151,9 miliar.
‎
‎”Menjadi penurunan bulanan terbesar sejak April 2025. Penurunan ini mencerminkan kombinasi antara upaya stabilisasi rupiah, namun juga kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah.”
‎
‎

(haa/haa)



Add



as a preferred

source on Google




[Gambas:Video CNBC]

Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Exclusive: Multi-Billion Dollar Shake-Up Looming for Invest in Lombok Property | Marina Bay City  in Lombok

Exclusive: Multi-Billion Dollar Shake-Up Looming for Invest in Lombok Property | Marina Bay City in Lombok

August 12, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Jangan Simpan Uang Banyak di Rekening, Maksimal Segini Menurut Pakar

Jangan Simpan Uang Banyak di Rekening, Maksimal Segini Menurut Pakar

April 18, 2026
Didukung OJK, Dana Pensiun Mau Tambah Investasi Pasar Modal

Didukung OJK, Dana Pensiun Mau Tambah Investasi Pasar Modal

April 18, 2026
Bersaing di Pasar RI, Ban Asal China Tawarkan 3 Keunggulan

Bersaing di Pasar RI, Ban Asal China Tawarkan 3 Keunggulan

April 18, 2026
Lombok Times News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .