• Latest
  • Trending
  • All
  • Business
  • Politics
Kelas Menengah RI Makin Terjepit, Ini Buktinya

Kelas Menengah RI Makin Terjepit, Ini Buktinya

July 24, 2025
Ketua OJK Friderica Bicara Situasi Ekonomi Terkini Hingga Update MSCI

Ketua OJK Friderica Bicara Situasi Ekonomi Terkini Hingga Update MSCI

April 25, 2026
Persaingan Ketat Emiten Migas Ekspansi Bisnis Operator Migas

Persaingan Ketat Emiten Migas Ekspansi Bisnis Operator Migas

April 25, 2026
Ternyata Ini Masalah yang Bikin CEO Bank Terbesar ASEAN Sulit Tidur

Ternyata Ini Masalah yang Bikin CEO Bank Terbesar ASEAN Sulit Tidur

April 25, 2026
Geger Netanyahu Ternyata Idap Kanker, Dirahasiakan dari Publik

Geger Netanyahu Ternyata Idap Kanker, Dirahasiakan dari Publik

April 25, 2026
Modal Insurtech Raih Pertumbuhan Bisnis Asuransi Era Perang

Modal Insurtech Raih Pertumbuhan Bisnis Asuransi Era Perang

April 25, 2026
Raja Tol Trans Sumatra Cetak Laba Bersih Rp464 M, 172,49% dari Target

Raja Tol Trans Sumatra Cetak Laba Bersih Rp464 M, 172,49% dari Target

April 25, 2026
Kata-Kata Nasihat Investasi Anti-Boncos Ala Warren Buffett

Kata-Kata Nasihat Investasi Anti-Boncos Ala Warren Buffett

April 25, 2026
EV Di Perut Bumi, Ketersediaan Listrik & Suku Cadang Mencukupi?

EV Di Perut Bumi, Ketersediaan Listrik & Suku Cadang Mencukupi?

April 25, 2026
AS Bekukan Aset Kripto Rp5,6 Triliun Terkait Iran

AS Bekukan Aset Kripto Rp5,6 Triliun Terkait Iran

April 25, 2026
Percayalah! Sengaja Gagal Bayar Pinjol Bawa Petaka-Senjata Makan Tuan

Percayalah! Sengaja Gagal Bayar Pinjol Bawa Petaka-Senjata Makan Tuan

April 25, 2026
Resmi! Armand Hermawan Jadi Presdir Lintasarta

Resmi! Armand Hermawan Jadi Presdir Lintasarta

April 25, 2026
Tertarik Punya Alfamart Sendiri, Minimal Duit Segini Buat Biaya Awal

Tertarik Punya Alfamart Sendiri, Minimal Duit Segini Buat Biaya Awal

April 25, 2026
  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News
Saturday, April 25, 2026
Lombok Times News
  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News
No Result
View All Result
Lombok Times News
No Result
View All Result
Home Market

Kelas Menengah RI Makin Terjepit, Ini Buktinya

9 months ago
in Market
Kelas Menengah RI Makin Terjepit, Ini Buktinya
Share on FacebookShare on Twitter




Jakarta, CNBC Indonesia – Fenomena kelas menengah yang terjepit tecermin dari data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) yang menunjukkan bahwa tabungan masyarakat atau individu yang kurang dari Rp100 juta terus mengalami penurunan. Hal ini melahirkan fenomena “orang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin” tengah terjadi.

Pertumbuhan tabungan masyarakat yang kurang dari Rp100 juta dari Juli 2016 hingga Juli 2019 tercatat sebesar 26,3%. Sementara masyarakat dengan tabungan Rp100 juta hingga Rp200 juta di periode yang sama bertumbuh 29,4%.

Pertumbuhan ini mengalami penurunan jika dibandingkan dengan kondisi Juli 2021 hingga Juli 2024 yang hanya bertambah 11,9% untuk masyarakat dengan tabungan kurang dari Rp 100 juta dan naik 13,3% untuk masyarakat dengan tabungan Rp 100 juta hingga Rp 200 juta.

Berbeda halnya dengan masyarakat yang memiliki tabungan di atas Rp 5 miliar atau yang banyak diisi oleh pihak korporasi, justru cenderung mengalami peningkatan yang signifikan. Pada Juli 2016 hingga Juli 2019 tercatat mengalami kenaikan sebesar 29,7% dan pada Juli 2021 hingga Juli 2024 kembali bertumbuh bahkan lebih tinggi yakni sebesar 33,9%.

Sementara itu, jutaan warga kelas menengah di Indonesia rentan ‘turun kasta’ ke kelas menengah rentan hingga kelompok rentan miskin. Berdasarkan catatan Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2019 jumlah kelas menengah di Indonesia 57,33 juta orang atau setara 21,45% dari total penduduk.

Lalu, pada 2024 hanya tersisa 47,85 juta orang atau setara 17,13%. Artinya ada sebanyak 9,48 juta warga kelas menengah yang turun kelas.

Tabungan Masyarakat di Bank Masih Seret

Pertumbuhan tabungan masyarakat di industri perbankan nasional diperkirakan akan masih seret. Hal itu diungkapkan oleh Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dalam laporan Indikator Pasar Keuangan Juni 2025.

Perkiraan tersebut berkaitan dengan pergerakan suku bunga simpanan rupiah yang berpotensi turun, sebagai respons dari kebijakan Bank Indonesia (BI) yang telah menurunkan suku bunga acuan dan adanya penurunan dari Tingkat Bunga Penjaminan (TBP) LPS.

Sementara itu, masih terbukanya ruang penurunan suku bunga kebijakan dari bank sentral utama global akan menentukan besaran penurunan suku bunga simpanan valas.

LPS menjelaskan perkiraan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) masih melambat terjadi seiring dengan pertumbuhan penyaluran kredit yang lebih lambat. Keadaan tersebut, bersama dengan kompetisi bank mempertahankan market share dan deposan, berpotensi mempengaruhi tingkat suku bunga simpanan individual di bank.

“Penghimpunan dana pihak ketiga diperkirakan masih moderat di tengah ekspektasi ekspansi kredit yang juga lebih lambat. Kondisi likuiditas, target penyaluran kredit dan tingkat kompetisi dalam mempertahankan market share dan deposan potensial memengaruhi suku bunga simpanan di tingkat individual bank,” tulis LPS dalam laporan Indikator Pasar Keuangan Juni 2025, dikutip Kamis (24/7/2025).

Sementara itu, transmisi penurunan suku bunga kredit disebut akan cenderung lebih panjang sejalan upaya bank tetap menjaga kinerja sisi profitabilitas.

Adapun pertumbuhan DPK meningkat 6,96% secara tahunan atau year on year (yoy) pada Juni 2025, namun masih di bawah pertumbuhan kredit. Kredit perbankan tumbuh sebesar 7,77% yoy per Juni 2025, menurun dibandingkan dengan pertumbuhan Mei 2025 sebesar 8,43% yoy. Pertumbuhan tersebut juga berada di bawah rentang target pertumbuhan kredit BI untuk tahun 2025, yakni 8% hingga 11%.

Bankir-Bankir Akui Nasabah Kaya Makin Banyak

Sejumlah bankir pun mengakui bahwa memang saat ini terjadi peningkatan simpanan nasabah kelas menengah atas yang nominalnya Rp5 miliar ke atas. Sementara itu, jumlah tabungan nasabah kelas menengah bawah yang nominalnya Rp100 juta ke bawah tengah menurun.

Tren ini terjadi di bank swasta terbesar RI, Bank Central Asia (BCA), sebagaimana diakui oleh presiden direktur bank swasta terbesar RI itu, Jahja Setiaatmadja.

“Ini yang disebut K shaped,” katanya saat dihubungi CNBC Indonesia.

Istilah yang dimaksud Jahja itu merujuk pada jenis pemulihan berbentuk ‘K’ atau K-shaped recovery. Artinya, ada industri yang cepat pulih dan diuntungkan dan ada pula yang malah tertatih-tatih dan dirugikan.

Secara visual, bentuk pemulihan tersebut tampak bercabang dan menyerupai dua lengan huruf ‘K’, di mana ada sekelompok industri yang mengarah ke arah atas atau positif dan sisanya menjadi lengan bawah huruf ‘K’ alias ke teritori negatif. Dengan kata lain, kelas menengah dan industri tertentu memang mengalami keuntungan sementara kelas bawah dan industri tertentu terpuruk.

Bank Tabungan Negara (BTN) juga mengalami hal yang sama. Direktur Distribution and Institutional Funding BTN Jasmin mengakui bahwa pertumbuhan dana ritel kelas atas mengalami kenaikan.

“Trennya [pertumbuhan simpanan di BTN] sama ya, dengan bank lain. Yang Rp5 miliar ke atas tumbuh, yang Rp100 juta turun,” katanya saat dihubungi CNBC Indonesia, Senin (10/9/2024).

Fenomena ini tidak menjadi masalah bagi likuiditas perbankan, terlebih pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) industri perbankan masih mencukupi. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat per Juli 2024, DPK sebesar Rp 8.687 triliun, naik 7,72% yoy. Meskipun secara bulanan, DPK mengalami kontraksi sebesar 0,4%.

Namun, Jasmin menyebut jika tren kelas menengah turun kelas berlanjut dan mempengaruhi kemampuan mereka menabung, bakal berpengaruh terhadap kualitas kredit mereka.

Itu senada dengan yang dialami Bank Negara Indonesia (BNI). Direktur utama bank pelat merah tersebut, Royke Tumilaar mengakui fenomena ini sangat berpengaruh terhadap kenaikan rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) dari kredit segmen usaha kecil menengah (UKM).

Kendati demikian, jumlah pertumbuhan tabungan di BNI secara keseluruhan tetap terjaga karena lagi-lagi, ditopang tabungan nasabah kaya yang meningkat.

“Tabungan dan kredit konsumtif tidak terlalu [terdampak fenomena kelas menengah dan daya beli menurun] karena segmen menengah atas masih OK,” pungkas Royke.

Ternyata, pertumbuhan tabungan Rp5 miliar ke atas juga didukung oleh kompetisi perbankan menarik para nasabah tajir. Menurut Direktur Utama Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten atau BJB, Yuddy Renaldi, perbankan tengah berlomba meningkatkan suku bunga simpanan.

“Saat ini, menjelang akhir tahun, perbankan berlomba-lomba menaikkan suku bunga simpanan dan membidik segmen High Networth Individual (HNWI) yang rata-rata simpanan di atas Rp5 miliar, sehingga simpanan di atas Rp5 miliar tumbuh signifikan, sementara untuk segmen simpanan kisaran Rp100 juta, bunga yang diberikan dari perbankan kurang menarik kisaran di bawah 4%,” terang Yuddy saat dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (10/9/2024).

Lantas, kata dia, nasabah memilih untuk menyimpan di alternatif produk investasi. Seperti obligasi yang diterbitkan pemerintah dengan saat ini kuponnya berkisar 6,35% hingga 6,45%, dengan nominal minimal Rp1 juta. Ada juga pilihan menyimpan di pasar uang dengan return 4% sampai 5% net.

“Untuk di bank bjb, pertumbuhan dana ritel cukup signifikan, salah satu yang menarik dengan adanya program-program tabungan dan menyasar semua segmen,” tambah Yuddy, tanpa merincikan lebih lanjut pertumbuhan tabungan tersebut.

Sementara itu, CIMB Niaga juga was-was terhadap terhadap daya beli masyarakat yang tengah menurun. Walaupun demikian, presiden direktur bank swasta terbesar kedua RI Lani Darmawan mengatakan ada peningkatan tabungan kelompok masyarakat usia muda yang baru memiliki pekerjaan.

“Kelompok masyarakat muda usia first jobbers yang mulai punya tabungan juga naik. Low ticket size. Dan ini segment yang tidak terlalu price sensitive, karena low balance,” ungkap Lani saat dihubungi CNBC Indonesia.

Ia mengatakan CIMB Niaga fokus ke tabungan massal lewat kanal digital, agar biaya pendanaan atau cost of fund (CoF) dapat ditekan.

Bank Tetap Cuan, Orang Kaya Makin Kaya, Orang Miskin Makin Miskin

Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah mengatakan kondisi likuiditas perbankan nasional saat ini masih aman, bahkan beberapa bank berlimpah likuiditas.

“Karena di Indonesia ini kan kondisinya anomali, perbankannya bisa untung gede, perekonomiannya nyungsep, itu yang sedang kita alami sekarang ini. Kenapa itu bisa terjadi? Karena memang kondisinya berbeda dengan negara lain, di Indonesia ini bank bisa menikmati keuntungan tanpa menyalurkan kredit. Itu yang membuat perekonomian kita menjadi agak aneh.” ucap Piter saat dihubungi CNBC Indonesia.

Ia mengatakan pertumbuhan kredit nasional kepada segmen usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) saat ini “nyungsep.” Adapun Bank Indonesia (BI) melaporkan pertumbuhan kredit UMKM melambat pada Juli 2024, naik 5,1% secara tahunan (yoy) menjadi Rp 1.375,5 triliun, lebih lambat dibandingkan dengan bulan sebelumnya, yakni 5,6% yoy.

“Jadi secara kegiatan ekonomi, kegiatan produktif dari perusahaan-perusahaan, khususnya di perusahaan besar itu menurun, tetapi bagi bank sendiri mereka mendapatkan keuntungan yang tinggi sekarang ini,” pungkas Piter.

Di tengah kondisi seperti itu, terangnya, perbankan dapat menempatkan likuiditasnya di instrumen seperti SBN dan SBRI yang likuid. Sehingga, mereka memiliki margin yang cukup.

“Jadi, ketika pertumbuhan DPK kita menurun, terutama DPK yang rendah itu turun, bagi mereka tidak masalah. Karena yang paling penting bagi perbankan itu adalah rasio likuiditas mereka mencukupi, rasio keuntungan mereka mencukupi,” tandas Piter.

Menurutnya, “anomali” ini hanya terjadi di Indonesia saja.

Selain ia menyebut bahwa fenomena “orang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin” juga merupakan anomali lain sistem keuangan Indonesia.

“Karena dengan mereka menempatkan, sekarang kan bunga-bunga bank kan tinggi, mereka nggak usah cari duit buka warung kasus bakso, mereka taruh duit saja di deposito, uang mereka bertambah, sudah tumbuh uangnya,” jelasnya.

“Jadi di Indonesia ini orang kaya itu yang terjamin pasti akan tambah kaya. Jadi DPK untuk orang kaya itu akan cenderung tumbuh lebih tinggi dibandingkan DPK masyarakat bawah, karena yang makan tabungan itu hanya terjadi pada level bawah.”

(fsd/fsd)

[Gambas:Video CNBC]




Next Article



Data Transaksi QRIS Ungkap Beban Kelas Menengah RI Berat




Source link

Share196Tweet123
  • Trending
  • Comments
  • Latest
Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

Billionaire Developer Jamie McIntyre Eyes Batam for Potential New City Project

August 12, 2025
BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

BRICS Rise, Western Financial System Collapse Looms, Warns Jamie McIntyre

August 12, 2025
Exclusive: Multi-Billion Dollar Shake-Up Looming for Invest in Lombok Property | Marina Bay City  in Lombok

Exclusive: Multi-Billion Dollar Shake-Up Looming for Invest in Lombok Property | Marina Bay City in Lombok

August 12, 2025
Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

Danantara Bakal Dapat Pendanaan dari Bank Asing Rp 161 Triliun

0
Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

Belum Submit Laporan Keuangan 2024, BEI Gembok & Denda 68 Emiten Ini

0
Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

Dibuka Menguat, IHSG Galau Tiba-tiba Merosot ke Zona Merah

0
Ketua OJK Friderica Bicara Situasi Ekonomi Terkini Hingga Update MSCI

Ketua OJK Friderica Bicara Situasi Ekonomi Terkini Hingga Update MSCI

April 25, 2026
Persaingan Ketat Emiten Migas Ekspansi Bisnis Operator Migas

Persaingan Ketat Emiten Migas Ekspansi Bisnis Operator Migas

April 25, 2026
Ternyata Ini Masalah yang Bikin CEO Bank Terbesar ASEAN Sulit Tidur

Ternyata Ini Masalah yang Bikin CEO Bank Terbesar ASEAN Sulit Tidur

April 25, 2026
Lombok Times News

Copyright © 2025 .

Navigate Site

  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Follow Us

No Result
View All Result
  • Home
  • Entrepreneur
  • Lifestyle
  • Market
  • News

Copyright © 2025 .